Senin, 07 November 2011

Illusion (chapter_2)


Seberkas cahara oranye perpendar saat pria berbadah tegap dengan rambut acak acakan dan berpakaian lusuh itu menekankan jarinya pada korek untuk menyalakan rokok, ia melihat ke arah rumah besar yang terlindungi pagar tinggi bergaya eropa kuno. Wajahnya terlihat pucat, terdapat garis hitam di bawah matanya. Seorang remaja dan pria tua berpakian hitam hitam keluar dari gerbang itu saat ia menghisap rokoknya.

“siapa itu” ujar remaja berpakaian hitam yang baru keluar dari gerbang itu.

“ada apa Kevin?” kakek sinaro melihat kearah tempat yang di tunjuk Kevin. Tapi tidak ada siapapun disana.

“aku yakin aku melihat seseorang disana, tampangnya sangat mencurigakan.” Kevin memalingkan wajahnya yang sedari tadi melihat kearah orang yang ia yakin lihat tadi. “ah, sudah lah.”

“kita berangkat sekarang” ajak kakek sinaro. Kevin tidak menjawab. Ia langsung berjalan menuju pemakaman yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Suasana pemakaman memang selalu membuat seseorang merasakan kesunyian. Padahal pagi itu sedang banyak pelayat yang datag mengunjungi kuburan keluarga atau kerabat mereka. Kevin dan kakek sinaro berjalan melintasi setengah area pemakaman itu dan berhenti di depan dua batu nisan yang terawat baik. Di atas kuburan itu sudah ada seikat bunga mawar yang sepertinya masih baru.

“pasti seseorang datang berkunjung ketempat ini tadi, mungkin teman teman rizal dan anisa’” ujar kakek sinaro. Ia duduk bertumpu dengan lutut dan jari kakinya sambil memegang nisan yang bertuliskan Rizal Sinaro. Kevin menatap lurus kea rah kuburan itu, pandangannya tajam, ia mengingat entang surat yang ia terima tadi mala, berfikir mana mungkin orag yang sudah tujuh tahun terkubur disini bisa mengirimkan surat kepadanya kemarin. Otaknya di penuhi rasa penasaran tenang surat itu. Ia memastikan didalam hatinya kalau itu hanya perbuatan orang isen, tapi tulisan memang tulisan yang sama dengan tulisan tangan ayahnya. Pikiran Kevin benar benar melayang memikirkan tentang surat misterius tersebut. Kakek sinaro berdiri setelah selesai membaca do’a dengan khusyuk dan melihat Kevin

“apa kau ingin segera pulang Kevin?” Tanya kakek sinaro, tapi Kevin masih sibuk dengan fikirannya tentang surat itu. Kakek sinaro memegang pundak Kevin “ ayo Kevin”

“baik kek” jawab Kevin datar, matanya masih memandang kearah dua nisan dihadapannya. Lalu Kevin mulai melangkahkan kakinya di tanah lembab pemakaman itu mengikuti kakek sinaro yang sudah jalan duluan. Agak sulit berjalan di tanah memakaman yang basah itu. Beberapa kali Kevin tersandung pinggiran kuburan yang rapat satu sama lainnya. Sekarang ia tertinggal agak jauh dari kakek sinaro. Ia melihat kedepan, kearah gerbang pemakaman yang berjarak sekitar 20 meter didepan. Dan sekali lagi ia harus tersandung dan hampir terjatuh, ia memperhatikan apa yang menabrak kakinya, kali ini bukan makam yang menabrak kakinya. Tapi sesuatu yang menjulur keluar dari dalam tanah, seseuatu yang terbuat dari logam berwarna ke emasan. Kevin yakin ia tidak melihat benda ini saat pertama masuk tadi. Ia memperhatikan dengan seksama, benda itu tidak seperti benda yang seharusnya berada di area pemakaman. “benda apa ini?” gumam Kevin, entah kenapa ia sangat tertarik melihat benda itu, dan mencoba mengambilnya. Terdapat seperti ukiran ukiran di benda logam itu. Ia menariknya keluar dari tanah, benda itu tidak terkubur terlalu dalam, dengan mudah Kevin mencabutnya, benda itu berbentuk seperti gagang pisau tanpa bilah. Terdapat ukiran yang tertulis di benda itu. Kevin membaca tulisan itu dengan suara pelan.

musuh dari sebuah ilusi adalah kenyataan

Jantung Kevin berdegup keras dalam satu hentakan, memberikan sensasi aneh pada tubuhnya, darahnya terasa mengalir lebih cepat. Secara perlahan Seberkas cahaya ke emasan yang membutakan mata memancar dari benda logam itu dan beberapa detik kemudian keadan berubah. Suasana pemakaman itu menjadi sepi, sepi yang tidak biasa, Kevin melihat ke segala penjuru pemakaman, pelayat yang tadinya ramai semua menghilang. Bahkan ia tidak melihat kakeknya dimanapun.

“apa kabar Kevin” suara dari sorang wanita sentak saja mengagetkan Kevin yang langsung menengok kebelakang. Seorang gadis bermata biru mengenakan gaun hitam muncul secara tiba tiba, sosoknya sangat anggun dengan rambut merah tembaganya yang melambai saat di terpa angin.

“si-siapa kau?” Tanya Kevin dengan nada angkuhnya, ia merasakan seseuatu dari wanita itu, seperti memancarkan aura hangat yang nyaman. “siapa kau, apa yang sebenarnya terjadi?” ulang Kevin.

“Namaku Elsa” wanita itu medekat kepada Kevin dengan langkah perlahan nan gemulai. Mengherankan bagaimana ia bisa berjalan selancar itu di tanah basah yang sedari tadi membuat Kevin harus bersusah payah melaluinya.

“apa ini perbuatan mu? Kemana semua orang?”

“tenang saja Kevin” Elsa menghentikan langkahnya di samping kuburan bermarmer merah. Bibirnya tersenyum kecil “aku adalah orang yang orang tua mu selamatkan tujuh tahun lalu.”

Perhatian Kevin tersita pada sebuah kalung bertatahkan batu hijau gemerlap dan terdapat Ukiran huruf “S” yang meliuk-liuk seperti ular yang di kenalan elsa, terasa sangat familiar, tapi Sebuah angin besar secara tiba tiba menerpa daerah itu, mengoyangkan pohon dan membuat keseimbangan Kevin goyah di  tanah lembab itu. Elsa tetap berdiri pada tempatnya tidak bergeming sedikit pun.

“ini saatnya aku membalas budi.” Gagang pisau emas yang sedari  tadi Kevin pegang bersinar kembali, cahaya yang membutakan memancar terang. Dan beberapa detik kemudian keadaan kembali normal, para pelayat yang memeng beberapa menit lalu menghilang muncul lagi di tempat awal mereka.

“cih, apa-apaan ini.” ia melihat keadaan sekitar. Ia tidak menemukan elsa dimanapun. Keringat berjatuhan dari wajahnya saat ia mulai berjalan lagi keluar pemakaman. Semua keadaan normal kembali tetapi ia tidak juga menemukan kakek sinaro.“ dimana kakek, apa dia meninggalkan ku.”.

Kevin berjalan sendiri kerumahnya, pohon pohon rindang menutupi separuh langit dari penglihatannya.memberikan suasana teduh. Ia masih memegang gagang pisau emas itu. Memperjatikan ukiran yang tertulis, membacanya lagi

“musuh dari sebuah ilusi adalah kenyataan”

“apa maksud kata kata ini.” Gumam Kevin.” Dan wanita itu, elsa, balas budi. Aku sungguh tidak mengerti,”

Langkah Kevin terhenti di depan gerbang bergaya eropa. Itu, seingatnya gerbang rumahnya agak berkarat dan catnya sudah mengelupassampai pagi ini. Tapi sekarang lebih bersih dengan cat abu abu yang rapih. Ia mendorong gerbang itu perlahan. Dan masuk kehalaman rumahnya. Perhatian klevn masih terpaku pada ganging pisau emas yang ia temukan di area pemakaman. Tiba tba perhatiannya terhadap gagang pisau emas itu teralihkan saat mendengar suara berat dariseorang pria paruh baya di depannya.

“dari mana saja kau Kevin?” Rizal sinaro, ayah Kevin berdiri di hadapannya dengan ekspresi marah atau khawatir. “pagi pagi sekali kau sudah menghilang, apa kau tau kami mencarimu kemana mana.”

“apa itu Kevin, Pah?” annisa muncul , keluar dari pintu rumah dengan tergesa gesa dan berlari menghampiri Kevin “kau dalam masalah Kevin, ujar annisa jengkel saat tiba tepat dihadapan Kevin.

"apa pula ini?" perut kevvin terasa terpilin. kembali ia melihat orang tuanya secara nyata di depan matanya, ia mengigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah, terasa sakit, mungkinkah seseorang merasakan sakit di alam mimpi. kalau ini kenyataan mungkin kah orang yang mati hidup kembali.

Kamis, 03 November 2011

Chapter 3

Angel Tale / White Flower 

 -------

Ia bermain dengan gitar tuanya sambil menunggu kedatangan temannya, memetikkan alunan nada-nada indah dari beberapa lagu kenangannya, tidak berapa lama seseorang di luar sana mengetuk pintu rumah berukuran sedang yang minimalis itu.
Ia bergegas menuju gerbang. “Woi, masbro apa kabar?” sapanya ramah pada teman lamanya itu.
“Alhamdulillah gw baik, lo sendiri giman? Btw lo udah punya cewek sob?” Ujarnya.
“He? Sotoy lo dasar.” Jawabnya.
“Cuman nebak-nebak aja, masa iya mau jadi duda terus.” Ucapnya santai.
“Ahh, udahlah.. Btw ada apaan si lo tiba-tiba kesini kayaknya ada yang serius? Apa ada masalah di Angels Tale?” Seru laki-laki tinggi itu.
“Angles Tale alhamdulillah baik-baik aja, tapi ada sesuatu di dalamnya yang akan buat lo kaget mungkin gak percaya ngedengernya.” Ucap Ryan santai sambil membuka jaketnya.
Ia semakin penasaran dengan kata-kata Ryan. “Terus apa? Seserius apa si sampai segitunya, apa bakal bikin gw kena serangan jantung mendadak?” Ucapnya dengan nada semakin penasaran.
“Mungkin lebih dari itu.” Jawab Ryan santai.
“Hah? Serius lo? Ada apa si?” Vallen kebingungan dibuatnya.
“Mending lo tarik nafas dulu sebelum denger gw ngomong dan siapin mental lo.” Perkataan Ryan semakin menjadi teka-teki yang sedikit membingungkan dan penuh tanya.
‘Ada apa sebenarnya?’ Vallen mengikuti saran Ryan. “Buru apaan....” Perintahnya tak sabar.
“Sebenarnya lo itu udah jadi seorang bapak Len.” Ucap Ryan santai.
Vallen merasa bingung dibuatnya. ‘Apa lagi ini? Apa Ryan becanda? Konyol sekali jika itu benar.’
“Heh, pasti gak percaya lo yah? Lo kira ini hal yang pantes buat becandaan? Ini serius, kalau lo gak percaya besok dateng ke Angels Tale tapi lo mesti pake penyamaran.” Saran Ryan.
“Buat apa?” Taanyanya kebingungan dan masih tidak percaya.
“Buat ngeliat anak lo lah yang selama lima tahun tumbuh tanpa sosok ayah.” Ucap Ryan sedangkan Vallen hanya dapat terdiam ia masih bertanya-tanya tak percaya namun ada rasa bahagia yang muncul.
“Ok, besok gw datang, udah lo nginep aja di sini besok kita bernagkat bareng.” Ajak Vallen. “Oh iya, anak yang lo maksud itu anak gw sama Crystal kan?” sambungnya.
“Bego, ya iyalah sama siapa lagi, memangnya lo nikah berapa kali dan memangnya lo punya anak sama mantan istri lo yang kedua itu??” Sahut Ryan. “Yaudah ah gw mau molor, untuk saat ini lo belaga nggak tau aja soalnya Crystal memang sengaja nyembunyiin Geo.” Lanjut Ryan.
“Baiklah.. Hmm.. jadi namanya Geo yah? Seorang anak perempuan, bagaimana rupanya?” Tanyanya semakin penasaran akan sosok gadis kecilnya yang tak pernah ia tahu.
“Cielaahhh, yang udah jadi bapak penasaran ni yeh, liat besok aja.” Jawab Ryan dengan senyum.
“Ahhh elahhh, jangan molor dulu Yan, ceritain anak gw gimana dan kok bisa Crystal sembunyiin itu?” Vallen penasaran.
“Udah tidur, cerewet amat si kayak gak ada hari esok.” Jawab Ryan dan iya memalingkan badanya.
“Yaudah molor dah lo sono, gw mana bisa tidur mikirin besok ketemu anak gw.” Ujarnya.
“Hehehe..” Senyum misterius Ryan.
-
Keesokan paginya.
Ryan menatap ke arah sahabatnya. “Eh, gila.. Lo benar-benar gak tidur?”
“Menurut lo kalau lo jadi gw apa lo bisa tidur mikirin mau ketemu anak lo yang gak pernah tau gimana keadaannya, mukanya dan selama ini gak tau akan hadirnya di dunia.” Jawabnya panjang.
“Iya gw ngerti, yaudah gw mau mandi dulu yah, nanti jalan jam delapan aja.” Ucap Ryan. “Lo juga mandi bego.”
“Bacot udah lo duluan aja.” Serunya.

-------

Cystal side
“Mamaaaa.. hari ini mama nungguin aku lagi gak?” Tanya seorang malaikat kecil.
“Sayang, maaf yah mama Cuma bisa anter terus jemput kamu, mama gak bisa nungguin soalnya mama ada keperluan.” Jelasku.
“Yahh, padahal kan ini hari minggu ma.” Ucapnya sedkit cemberut.
“Maafin mama yah sayang, sepulang les kita jalan-jalan makan es krim gimana?” Rayuku.
Ia mulai tersenyum walau sedikit terpaksa. “Okay mama.”
“Yaudah berangkat yukk..” Ajakku. Ia pun menggandeng tanganku.

-------

Vallen side
“Buruan kek Yan, lama banget.” Ucapku kesal.
“Sabarrrr, ini lagi ngiket tali sepatu.” Jelas Ryan.
“Udah di mobil aja.” Perintahku.
Setelah Ryan mengikat sepatunya di dalam mobil, aku segara memacu mobilku dengan cepat.
“Woiii, gw belum mau mati Len, santai napa.” Protes Ryan.
“Iya, maaf gw gak sabar dan sedikit nerves.” Jawabku.
Beberapa menit berlalu, tak lama aku sampai di depan Angels Tale, iya gedung sederhana tempat kursus musik milikku.
“Jangan keluar dulu Len.” Cegah Ryan saat aku akan membuka pintu mobilku.
“Ada apa lagi?” Aku sedikit geram dibuatnya.
“Lo liat Honda Jazz putih itu.” Perintahnya.
“Yang mana?”
“Ituuuuuuuuuu..” Ryan menunjuk.
Seorang wanita yang manis dengan seorang gadis kecil keluar dari mobil itu. “Crys..tal...” Aku sedikit berbisik.
“Itu anak dan mantan istri lo.”
“Dia gak berubah...” Komentarku.
“Iya, memang gak berubah masih sotoy sama batu si Crystal tapi dia memang lebih anggun dsn keibuan si menurut gw.” Ujar Ryan.
Aku mulai keluar dari mobil. “Ayoooo, Yan..” Ajakku.
“Mau kemana? Lo mau dia liat lo terus malah ngilang dari hidup lo lagi?”
‘Kata-kata Ryan benar aku harus sedikit bersabar.’ “Eh Yan, itu Crystal keluar lagi.”
“Oohh, hari ini berarti your lucky, Crystal gak nungguin Geo.”
“Yaudah mau nunggu apalagi, anterin gw ke kelas Geo.” Aku benar-benar tak sabar.
Kami turun dari mobil, mulai memasuki gedung itu, semua pegawaiku memberi salam padaku, di sepanjang lorong kelas jantungku tak dapat berhenti berdebar. Kini aku sampai di depan pintu. Aku mulai masuk dan ternyata ada seorang anak menangis ia adalah malaikat kecilku.
“Hei, manis kenapa nangis?” Tanyaku sedikit gemetar.
“Tadi teman aku ngambil coklat aku yang tadi dibeliin mama.. huhuhuu..” Iya mangadu padaku.
“Nanti pa *upss*” Aku menghentikan kata-kataku sejenak, “om beliin mau?” Ucapku.
“Benaran? Asikkkk..” Iya mulai tersenyum. “Eh, ada om yang temannya mama juga.” Ia melirik ke arah Ryan.
“Iya sayang, ini om Ryan..”
“Hey, cantik mau gak beli coklat sekarang.” Aku mencoba mendekatinya.
“Aku mau, tapi kata mama aku gak boleh ikut orang yang baru aku kenal.” Bicaranya lucu.
“Hahaha, anak pintar.. tapi kamu kan udah kenal om Ryan, dan om juga temannya om Ryan jadi nanti om Ryan yang bilang ke mama.” Jelasku dengan rayuan.
“Hmm.. Gimana yaa.. tapi kau kan lagi les om, baru juga datengg..” Jawabnya.
“Gak apa sayang ayo ikut om sama om Ryan yuk..” Semakin menyakinkannya.
“Iya ikut om Ryan mau yah..” Ryan memcoba membantuku.
“Okelah karena om om bedua maksa, tapi benar yah bilang sama mama.” Katanya.
“Hahhaha, iya sayang.” Jawabku, anak yang pandai bicara seperti mamanya.
Aku dan Ryan mengajak Geo makan es krim, aku memperhatiakan setiap hal yang ia lakukan dan wajahnya, benar-benar mirip sepertiku. Lucu sekali gadis yang pintar. “Geo, nama panjang Geo siapa?” Tanyaku.
“Nama panjang aku itu, Geovani Angel M om.” Jelasnya dengan mulut penuh es krim dan sibuk dengan makanan kesukaannya.”
“Namanya bagus, cantik kayak orangnya.” Pujiku sambil mengusap kepalanya dan mengelap es krim yang belepotan dimulutnya.
“Iya doang, Geo gitu.. Oh iya om masa kata mama aku, aku cantik kayak papa, kan kata mama papa aku ganteng.” Ia bercerita dengan lucu.
“Ohh, ya? Memang mama Geo cerita apa? Terus papa Geo kayak gimana si?” Aku mencoba bertanya dan mencari tahu.
“Hmm.. Geo gak pernah ketemu papa.” Ungkapnya sedih dan mulai menghentikan makannya. “Tapi,, kata mama papa itu ganteng, baik, sayang sama aku sama mama.”
‘Tuhann.. Aku merindukan saat seperti ini, jika saja aku bisa meneteskan air mata. Aku akan menetekan air mata kebahagiaan namun aku harus tetap tegar . Terima kasih telah memepertemukan aku pada malaikat kecil ini.’
“Om, kenapa diem? Oh sekarang aku yah yang nanya.”
“Kamu mau nanya apa sayang?” Kataku.
“Om udah punya anak?” Tanyanya lugu.
“Hmm, udah..” Jawabku.
“Anaknya umur berapa om? Cewek apa cowok?” Tanyanya lagi.
“Seumuran kamu, cewek dan anak om cantik banget.” Kataku.
“Oohh, gitu ya, senangnya anak om papanya gak di luar negeri kayak papa aku.” Muka cerianya berubah menjadi sedih.
“Hey, kenap sedih.. sini peluk om.” Aku mulai mendepaknya dengan hangat.
“Iya om peluk aku..” Iya membalas pelukanku ‘persis seperti ibunya.. manja..’ Ia terus memelukku, tak mau lepas apa ini yang dinamakan kontak batin seorang ayah dan anak.
“Len, Geo tidur tuh.” Ungkap Ryan.
“Serius? Cepat banget, ni anak sifatnya benar-benar kayak nyokapnya cuman fisikly lebih ke gw.”
“Hahaha, iya kan namanya juga anak lo berdua masa mirip gw gak lucu kan.” Tawa Ryan. “Eh udah waktunya anak les pulang nanti Crystal nayriin aja.
“Ayo kita balik ke Angels Tale, lo bawa mobil gw yah.” Ujarku.
“Ok, buruan.”  Kami memutuskan kembali dalam tidurnya Geo menyebut-nyebut papa, ia tampak benar-benar merindukan sosok ayahnya yaitu aku, sampai tertidurn tetap mendekapku, aku menciuminya dalam tidurnya. Anugerah Tuhan yang indah,luar biasa.
Kami sampai di depan gerbang Angels Tale dengan perasaan tidak ikhlas aku memindahan gendonganku ke Ryan, Ryan turun disitu sudah menunggu dengan gelisah seorang wanita manis yang sedang menangis.
“Crys kenapa nangis lo?” Ryan bertanya tanpa dosa.
“Geooo, ya Allah Geo sama lo, kenapa gak kasih tau gw, lo ga tau gw cemas!” Omelnya.
“Maaf Crys tadi dia nangis di kelas terus gw ajak makan es krim deh.” Ucapku membuatnya mengerti.
“Iya, mama tadi aku makan es krim sama om ganteng dan om Ryan.” Geo terbangun karena aku dan bercerita.
“Om ganteng? Siapa kak?” Aku bertanya-tanya.
“Iya tadi gw lagi jalan sama temen band gw.” Jelas kak Ryan.
“Oohh gitu, yaudah gw mau pulang dulu lain kali jangan sembarangn ngajak anak gw jalan tanpa ijin dari gw inget yah ka!.” Kataku dengan memberi penekanan keras disetiap kata-katanya.