Kamis, 03 November 2011

Chapter 3

Angel Tale / White Flower 

 -------

Ia bermain dengan gitar tuanya sambil menunggu kedatangan temannya, memetikkan alunan nada-nada indah dari beberapa lagu kenangannya, tidak berapa lama seseorang di luar sana mengetuk pintu rumah berukuran sedang yang minimalis itu.
Ia bergegas menuju gerbang. “Woi, masbro apa kabar?” sapanya ramah pada teman lamanya itu.
“Alhamdulillah gw baik, lo sendiri giman? Btw lo udah punya cewek sob?” Ujarnya.
“He? Sotoy lo dasar.” Jawabnya.
“Cuman nebak-nebak aja, masa iya mau jadi duda terus.” Ucapnya santai.
“Ahh, udahlah.. Btw ada apaan si lo tiba-tiba kesini kayaknya ada yang serius? Apa ada masalah di Angels Tale?” Seru laki-laki tinggi itu.
“Angles Tale alhamdulillah baik-baik aja, tapi ada sesuatu di dalamnya yang akan buat lo kaget mungkin gak percaya ngedengernya.” Ucap Ryan santai sambil membuka jaketnya.
Ia semakin penasaran dengan kata-kata Ryan. “Terus apa? Seserius apa si sampai segitunya, apa bakal bikin gw kena serangan jantung mendadak?” Ucapnya dengan nada semakin penasaran.
“Mungkin lebih dari itu.” Jawab Ryan santai.
“Hah? Serius lo? Ada apa si?” Vallen kebingungan dibuatnya.
“Mending lo tarik nafas dulu sebelum denger gw ngomong dan siapin mental lo.” Perkataan Ryan semakin menjadi teka-teki yang sedikit membingungkan dan penuh tanya.
‘Ada apa sebenarnya?’ Vallen mengikuti saran Ryan. “Buru apaan....” Perintahnya tak sabar.
“Sebenarnya lo itu udah jadi seorang bapak Len.” Ucap Ryan santai.
Vallen merasa bingung dibuatnya. ‘Apa lagi ini? Apa Ryan becanda? Konyol sekali jika itu benar.’
“Heh, pasti gak percaya lo yah? Lo kira ini hal yang pantes buat becandaan? Ini serius, kalau lo gak percaya besok dateng ke Angels Tale tapi lo mesti pake penyamaran.” Saran Ryan.
“Buat apa?” Taanyanya kebingungan dan masih tidak percaya.
“Buat ngeliat anak lo lah yang selama lima tahun tumbuh tanpa sosok ayah.” Ucap Ryan sedangkan Vallen hanya dapat terdiam ia masih bertanya-tanya tak percaya namun ada rasa bahagia yang muncul.
“Ok, besok gw datang, udah lo nginep aja di sini besok kita bernagkat bareng.” Ajak Vallen. “Oh iya, anak yang lo maksud itu anak gw sama Crystal kan?” sambungnya.
“Bego, ya iyalah sama siapa lagi, memangnya lo nikah berapa kali dan memangnya lo punya anak sama mantan istri lo yang kedua itu??” Sahut Ryan. “Yaudah ah gw mau molor, untuk saat ini lo belaga nggak tau aja soalnya Crystal memang sengaja nyembunyiin Geo.” Lanjut Ryan.
“Baiklah.. Hmm.. jadi namanya Geo yah? Seorang anak perempuan, bagaimana rupanya?” Tanyanya semakin penasaran akan sosok gadis kecilnya yang tak pernah ia tahu.
“Cielaahhh, yang udah jadi bapak penasaran ni yeh, liat besok aja.” Jawab Ryan dengan senyum.
“Ahhh elahhh, jangan molor dulu Yan, ceritain anak gw gimana dan kok bisa Crystal sembunyiin itu?” Vallen penasaran.
“Udah tidur, cerewet amat si kayak gak ada hari esok.” Jawab Ryan dan iya memalingkan badanya.
“Yaudah molor dah lo sono, gw mana bisa tidur mikirin besok ketemu anak gw.” Ujarnya.
“Hehehe..” Senyum misterius Ryan.
-
Keesokan paginya.
Ryan menatap ke arah sahabatnya. “Eh, gila.. Lo benar-benar gak tidur?”
“Menurut lo kalau lo jadi gw apa lo bisa tidur mikirin mau ketemu anak lo yang gak pernah tau gimana keadaannya, mukanya dan selama ini gak tau akan hadirnya di dunia.” Jawabnya panjang.
“Iya gw ngerti, yaudah gw mau mandi dulu yah, nanti jalan jam delapan aja.” Ucap Ryan. “Lo juga mandi bego.”
“Bacot udah lo duluan aja.” Serunya.

-------

Cystal side
“Mamaaaa.. hari ini mama nungguin aku lagi gak?” Tanya seorang malaikat kecil.
“Sayang, maaf yah mama Cuma bisa anter terus jemput kamu, mama gak bisa nungguin soalnya mama ada keperluan.” Jelasku.
“Yahh, padahal kan ini hari minggu ma.” Ucapnya sedkit cemberut.
“Maafin mama yah sayang, sepulang les kita jalan-jalan makan es krim gimana?” Rayuku.
Ia mulai tersenyum walau sedikit terpaksa. “Okay mama.”
“Yaudah berangkat yukk..” Ajakku. Ia pun menggandeng tanganku.

-------

Vallen side
“Buruan kek Yan, lama banget.” Ucapku kesal.
“Sabarrrr, ini lagi ngiket tali sepatu.” Jelas Ryan.
“Udah di mobil aja.” Perintahku.
Setelah Ryan mengikat sepatunya di dalam mobil, aku segara memacu mobilku dengan cepat.
“Woiii, gw belum mau mati Len, santai napa.” Protes Ryan.
“Iya, maaf gw gak sabar dan sedikit nerves.” Jawabku.
Beberapa menit berlalu, tak lama aku sampai di depan Angels Tale, iya gedung sederhana tempat kursus musik milikku.
“Jangan keluar dulu Len.” Cegah Ryan saat aku akan membuka pintu mobilku.
“Ada apa lagi?” Aku sedikit geram dibuatnya.
“Lo liat Honda Jazz putih itu.” Perintahnya.
“Yang mana?”
“Ituuuuuuuuuu..” Ryan menunjuk.
Seorang wanita yang manis dengan seorang gadis kecil keluar dari mobil itu. “Crys..tal...” Aku sedikit berbisik.
“Itu anak dan mantan istri lo.”
“Dia gak berubah...” Komentarku.
“Iya, memang gak berubah masih sotoy sama batu si Crystal tapi dia memang lebih anggun dsn keibuan si menurut gw.” Ujar Ryan.
Aku mulai keluar dari mobil. “Ayoooo, Yan..” Ajakku.
“Mau kemana? Lo mau dia liat lo terus malah ngilang dari hidup lo lagi?”
‘Kata-kata Ryan benar aku harus sedikit bersabar.’ “Eh Yan, itu Crystal keluar lagi.”
“Oohh, hari ini berarti your lucky, Crystal gak nungguin Geo.”
“Yaudah mau nunggu apalagi, anterin gw ke kelas Geo.” Aku benar-benar tak sabar.
Kami turun dari mobil, mulai memasuki gedung itu, semua pegawaiku memberi salam padaku, di sepanjang lorong kelas jantungku tak dapat berhenti berdebar. Kini aku sampai di depan pintu. Aku mulai masuk dan ternyata ada seorang anak menangis ia adalah malaikat kecilku.
“Hei, manis kenapa nangis?” Tanyaku sedikit gemetar.
“Tadi teman aku ngambil coklat aku yang tadi dibeliin mama.. huhuhuu..” Iya mangadu padaku.
“Nanti pa *upss*” Aku menghentikan kata-kataku sejenak, “om beliin mau?” Ucapku.
“Benaran? Asikkkk..” Iya mulai tersenyum. “Eh, ada om yang temannya mama juga.” Ia melirik ke arah Ryan.
“Iya sayang, ini om Ryan..”
“Hey, cantik mau gak beli coklat sekarang.” Aku mencoba mendekatinya.
“Aku mau, tapi kata mama aku gak boleh ikut orang yang baru aku kenal.” Bicaranya lucu.
“Hahaha, anak pintar.. tapi kamu kan udah kenal om Ryan, dan om juga temannya om Ryan jadi nanti om Ryan yang bilang ke mama.” Jelasku dengan rayuan.
“Hmm.. Gimana yaa.. tapi kau kan lagi les om, baru juga datengg..” Jawabnya.
“Gak apa sayang ayo ikut om sama om Ryan yuk..” Semakin menyakinkannya.
“Iya ikut om Ryan mau yah..” Ryan memcoba membantuku.
“Okelah karena om om bedua maksa, tapi benar yah bilang sama mama.” Katanya.
“Hahhaha, iya sayang.” Jawabku, anak yang pandai bicara seperti mamanya.
Aku dan Ryan mengajak Geo makan es krim, aku memperhatiakan setiap hal yang ia lakukan dan wajahnya, benar-benar mirip sepertiku. Lucu sekali gadis yang pintar. “Geo, nama panjang Geo siapa?” Tanyaku.
“Nama panjang aku itu, Geovani Angel M om.” Jelasnya dengan mulut penuh es krim dan sibuk dengan makanan kesukaannya.”
“Namanya bagus, cantik kayak orangnya.” Pujiku sambil mengusap kepalanya dan mengelap es krim yang belepotan dimulutnya.
“Iya doang, Geo gitu.. Oh iya om masa kata mama aku, aku cantik kayak papa, kan kata mama papa aku ganteng.” Ia bercerita dengan lucu.
“Ohh, ya? Memang mama Geo cerita apa? Terus papa Geo kayak gimana si?” Aku mencoba bertanya dan mencari tahu.
“Hmm.. Geo gak pernah ketemu papa.” Ungkapnya sedih dan mulai menghentikan makannya. “Tapi,, kata mama papa itu ganteng, baik, sayang sama aku sama mama.”
‘Tuhann.. Aku merindukan saat seperti ini, jika saja aku bisa meneteskan air mata. Aku akan menetekan air mata kebahagiaan namun aku harus tetap tegar . Terima kasih telah memepertemukan aku pada malaikat kecil ini.’
“Om, kenapa diem? Oh sekarang aku yah yang nanya.”
“Kamu mau nanya apa sayang?” Kataku.
“Om udah punya anak?” Tanyanya lugu.
“Hmm, udah..” Jawabku.
“Anaknya umur berapa om? Cewek apa cowok?” Tanyanya lagi.
“Seumuran kamu, cewek dan anak om cantik banget.” Kataku.
“Oohh, gitu ya, senangnya anak om papanya gak di luar negeri kayak papa aku.” Muka cerianya berubah menjadi sedih.
“Hey, kenap sedih.. sini peluk om.” Aku mulai mendepaknya dengan hangat.
“Iya om peluk aku..” Iya membalas pelukanku ‘persis seperti ibunya.. manja..’ Ia terus memelukku, tak mau lepas apa ini yang dinamakan kontak batin seorang ayah dan anak.
“Len, Geo tidur tuh.” Ungkap Ryan.
“Serius? Cepat banget, ni anak sifatnya benar-benar kayak nyokapnya cuman fisikly lebih ke gw.”
“Hahaha, iya kan namanya juga anak lo berdua masa mirip gw gak lucu kan.” Tawa Ryan. “Eh udah waktunya anak les pulang nanti Crystal nayriin aja.
“Ayo kita balik ke Angels Tale, lo bawa mobil gw yah.” Ujarku.
“Ok, buruan.”  Kami memutuskan kembali dalam tidurnya Geo menyebut-nyebut papa, ia tampak benar-benar merindukan sosok ayahnya yaitu aku, sampai tertidurn tetap mendekapku, aku menciuminya dalam tidurnya. Anugerah Tuhan yang indah,luar biasa.
Kami sampai di depan gerbang Angels Tale dengan perasaan tidak ikhlas aku memindahan gendonganku ke Ryan, Ryan turun disitu sudah menunggu dengan gelisah seorang wanita manis yang sedang menangis.
“Crys kenapa nangis lo?” Ryan bertanya tanpa dosa.
“Geooo, ya Allah Geo sama lo, kenapa gak kasih tau gw, lo ga tau gw cemas!” Omelnya.
“Maaf Crys tadi dia nangis di kelas terus gw ajak makan es krim deh.” Ucapku membuatnya mengerti.
“Iya, mama tadi aku makan es krim sama om ganteng dan om Ryan.” Geo terbangun karena aku dan bercerita.
“Om ganteng? Siapa kak?” Aku bertanya-tanya.
“Iya tadi gw lagi jalan sama temen band gw.” Jelas kak Ryan.
“Oohh gitu, yaudah gw mau pulang dulu lain kali jangan sembarangn ngajak anak gw jalan tanpa ijin dari gw inget yah ka!.” Kataku dengan memberi penekanan keras disetiap kata-katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar