Pada suatu hari di sebuah desa kecil yg terletak dipinggir hutan, sebuah kabut abu² membatasi penglihatan.
Seorang gadis kecil berambut pirang, mengenakan gaun putih-biru dengan renda renda di ujung-ujungnya itu berjalan perlahan sambil membawa sebuah lentera yg berpendar memberikan penerangan pada jalan berkabut itu.
Ya, keadaan memang agak gelap, tetapi sebenarnya langit masih sore. Rumah rumah di desa itu sudah menutup pintunya semua, Terlalu sore untuk tidur.
Gadis berambut pirang itu melihat keadaan sekitar. Ia merasakan sensasi aneh di badannya, udara dingin tiba tiba saja menusuk ke setiap tulang di tubuhnya.
Cahaya merah perlahan nampak di depan. Sebuah titik yg semakin membesar, mendekat dengan cepat.
Si gadis berambut pirang itu pun menghentikan langkahnya, jantungnya berdegup kencang.......
"Apa yang kau lakukan disini?" Seorang pria dengan jubah biru tua muncul dari balik kabut, membawa lentera yg bersinar terang.
"Eh," si wanta menjawab pertanyaan pria itu ter gagap. Tampaknya pria tersebut adalah seorang petugas keamanan desa, di jubahnya tertempel lencana berbentuk bintang dengan ukiran "P" di tengahnya.
"Aku. Aku tersesat" ujar gadis itu.
"Tersesat?" Tanya sang petugas dengan wajah datar, seolah sudah sering menemui orang yg tersesat. Desa ini adalah desa terpencil yg agak jauh dari desa selanjutnya. "Baiklah, sebaiknya kau ikut aku nak. Ini sudah senja. Kabut sudah turun. Berbahaya berada di luar begini" ajak sang petugas
Mereka berdua beranjak dari tempat itu. Lentera yg masing2 mereka pegang menerangi jalan berkabut itu. Si gadis pirang itu selalu menoleh kekanan dan kiri memperhatikan ke adaan sekitar yg sangatlah sepi.
"Siapa namamu nak?" Tanya petugas yg memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Namaku Elsa." Jawab si gadis berambut pirang itu.
"Bagai mana kau bisa sampai di desa ini Elsa?" Petugas itu menoleh ke arah Elsa, wajah ramahnya tampak jelas di terangi cahaya dari lentera yg ia pegang.
"Bukankah sudah kubilang kalau aku tersesat, pak...."
"Jack" potong sang petugas. "Panggil saja aku Jack" elsa memperhatikan wajah jack. Ia tampak seperti pria berumur 30 tahun rambut hitam pendeknya terlihat lembab, mungkin disebabkan oleh kabut ini. "Kemana tujuan mu sebenarnya Elsa?" Lanjut Jack.
"Aku sedang ingin pergi ke desa ether, tapi di perjalananku kabut muncul, dan aku tersesat ketempat ini"
"Dimanakah tepatnya kau berada saat kabut itu turun?"
"Kalau tidak salah saat aku berada di 'Sedna' Sebuah desa kecil di pinggir danau."
"Hemmm" gumam Jack. "aku tau desa itu, aku pernah kesana mengunjungi kerabatku, tapi desa itu jaraknya sangat jauh, perlu 3 hari penuh jika di tempuh dengan berjalan kaki."
" ini semacam portal ternyata" ujar Elsa dengan nada datar.
"Wow nak, kau percaya begitu saja?" Jack memandang aneh pada Elsa, tapi beberapa detik kemudian wajahnya kembali tersenyum dan melihat kedepan, terlihat samar samar di antara kabut sebuah pondok yg agak terpisah dari rumah lainnya. Sebuah pondok kayu yg terlihat hangat, dari jendela nampak perapian yg menyala dan seorang wanita tua sedang membereskan meja makan.
"Memangnya kau berbohong tadi?" Tanya Elsa.
"Tidak, tentu tidak. Kau bukan yg pertama tersesat kesini karna kabut, nak! Sudah belasan orang yg aku temui, dan setiap aku menjelaskannya, mereka semua menyebutku gila."
Langkah mereka terhenti di depan pintu kayu polos yg tertutup. Jack mengetuk pintu itu dan beberapa saat kemudian pintu itu terbuka, seorang wanita berwajah ramah muncul, ia mengenakan baju hangatnya. Dan ditangannya ia memegang sebuah gelas berisi coklat panas.
"Kau sudah kembali Jack" ujar wanita itu. Lalu ia mundur beberapa langkah mempersilahkan Jack dan Elsa masuk.
Langit sudah gelap total, cahaya bulan terlihat remang tertutup awan, jalan jalan tertutup kabut, Elsa melihat keluar jendela. Hanya titk titik oranye saja di antara kabut yg terlihat. Itu berasal dari lentera lentera yg tergantung di depan rumah penduduk. Mentari baru saja turun, tetapi kesunyian sangatlah pekat.
"Sangat sunyi" gumam Elsa pada dirinya sendiri.
"Kemarilah Elsa, duduk disini!" Ujar jack yg sedang duduk di bangku dekat perapian.
"Baiklah."
"Elsa, perkenalkan, wanita ini adalah istriku. Namanya Karen"
"Elsa" ujar Elsa memperkenalkan dirinya, ia menjulurkan tangannya, dan karen pun menyambut tangannya untuk bersalaman.
"Apa kau tersesat, nak?" Tanya karen sembari memberikan segelas coklat panas kepada Elsa.
"Umhh... Sepertinya begitu" jawab Elsa yg sudah menerima secangkir coklat panas, uap yg dihasilkan oleh hawa panas dari coklat dan udara dingin di ruangan itu mengepul ke wajah Elsa, ia mengerutkan alisnya saat memandang karen, "tampaknya kau bukan penduduk asli sini ya?" Tanya Elsa.
"Kau benar nak, aku memang bukan penduduk sini" senyum dari wanita ramah itu seperti menghangatkan ruangan yg dingin, jelas saja, salju mulai turun, butiran butiran itu menumpuk di jalanan, memberi pola putih dan coklat yg berselang seling. Karen duduk di bangku dekat perapian, ia menggemgam gelasnya yg hangat untuk mengusir dingin, lalu ia mulai berbicara. "Aku ini sama sepertimu Elsa, aku tersesat karna kabut dan muncul disini. Nama ku sebenarnya adalah Sulastri, dan aku berasal dari sebuah kerajaan yg jauh bernama mojopahit."
"Mojopahit?" Elsa tampak heran, ia mendekati karen atau sulatri, duduk di dekat perapian.
"Ya, mojopahit." Ulang karen sembari mendekap semakin ketat baju hangatnya.
"Kusiapkan kamar untukmu nak," Jack muncul dari balik pintu kayu di sudut ruangan, tampaknya sedari tadi ia membereskan kamar untuk Elsa tidur malam ini.
"Baiklah, sebaiknya percakapannya kita lanjutkan besok saja, kau sebaiknya tidur Elsa."
"Baiklah" jawab Elsa dengan sopan, walau sebenarnya ia sama sekali belum mengantuk, lagi pula matahari baru saja terbenam, dan belum saatnya tidur pikir Elsa.
Sudah sekitar tengah malam sekarang, walau tak ada satupun jam dirumah itu. Tapi kesunyian yg semakin pekat menandakan tengah malam telah tiba.
Senyum tergambar di wajah manis Elsa, sorot matanya berubah menjadi tajam. Memandang kelangit langit pondok itu.
Derap kaki berdentuman saat segerombolan orang orang jubah putih berjalan ke pondok milik Jack itu. Mereka berhenti tepat di depan pintu kayu yg terlihat tidak terlalu kokoh. Kelompok orang berjubah putih itu sekitar 3 orang, jubah mereka memiliki tudung yg menutupi kepala sehingga wajah wajah mereka tertutup. Di tambah gelapnya malam mereka bagai gerombolan hantu yg bergentayangan.
Salah seorang dari gerombolan itu membuka tudungnya. Dia adalah seorang pria, sekitar 20 tahunan. Wajahnya tampan dengan rambut merah sebahu, wajahnya tampak tenang.
"Dia disini." Ujar pria berambut merah itu dengan suara pelan.
"Haruskah kita dobrak saja pintu ini? Dia pasti sudah mengetahui kedatangan kita." Sahut seorang di antara gerombolan itu yg masih menggunakan tudungnya.
Si pria berambut merah mengangguk pelan. Lalu ia mengeluarkan sebuah topeng dari dalam jubahnya, topeng putih yg memiliki dua lubang celah untuk mata. Bentuk topeng itu sangat aneh, karna memiliki garis garis tajam di sisi kirinya. Bagaikan iblis, dan sebelahnya halus bagai malaikat. Dan para anggota berjubah putih yg lain mengikuti, memakai topengnya masing masing.
BRAK!!! Pintu kayu itu di dobrak dan para pria bertopeng ituberhamburan masuk. tapi baru masuk beberapa langkah, mereka terhenti. Karna saat itu Elsa sudah berdiri menanti mereka.
"Akhirnya kalian bisa menemukanku. Heh. Hebat juga kalian." Wajah Elsa memandang ke salah seorang bertopeng dua sisi iblis dan malaikat itu. Matanya manatap angkuh dan terkesan menghina.
"Dasar iblis kecil, malam ini perjalananmu akan berakhir." Bentak seseorang bertopeng itu dan langsung menerjang ke arah Elsa. Ia mengeluarkan sebuah keris dari dalam jubahnya. Keris itu ber luk 5. Terbuat dari baja hitam. Yg memancarkan aura biru yg menekan. Di hunuskannya keris itu ke arah dada Elsa. Kecepatan tusukan pria bertopeng itu bukan main. Seakan menyayat udara yg di lewatinya, meninggalkan bekas hitam yg pekat. Akan tetapi Elsa dengan tenang hanya memiringkan sedikit badannya untuk menghindari tusukan tersebut. Dan dalam satu hentakan, tangan Elsa memukul siku pria bertopeng trsebut. Ia terhuyung. Tapi dalam sekejam pria bertopeng tersebut memperoleh lagi keseimbangan berdirinya dan siap menerjan Elsa kembail. Namun betapa kagetnya saat ia hendak menebaskan kerisnya itu Elsa sudah melompat kebelakan, ia bagaikan melayang. Badannya mengarah kebawah sedangkan kakinya menapak pada langit langit pondok kecil itu. Elsa mengambil ancang ancang, di julurkan tangan kirinya kedepan dengan dan keluarlah cahaya. Membentuk sebuah gandewa. Atay panah, dan tangan kanannya dalam posisi bagaikan sedang menarik sebuah tali buuusur walau jelas jelas tidak ada tali disana. Dalam kecepatan tinggi cahaya dari tangan Elsa membentuk sebuah anak panah yg terbuat dari cahanya, dan saat ia mengerakan tangan kanannya, cahaya perak itu melesat ke arah pria bertopeng.
Kecepatan anak panah cahaya itu sanagatlah menakjubkan. Dan dengan cekatan pria bertopeng dengan keris ber luk-5 nya itu menebas cahaya yg melesat kearahnya. Saat cahaya perak dan keris hitam itu bertubrukan terjadilah ledakan yg amat dahsyat. Menghancuekan ruang tamu pondok tersebut.
"Sebaiknya kau menyerah Elsa. Teriak pria bertopeng yg keluar dari kepulan asap ledakan yg baru saja terjadi. Tapi kini topengnya sudah terlepas. ia adalah pria berambut merah dengan Keris hitam masih tergenggam erat ditangannya.
"Menyerah? Apa maksudmu dengan kata menyerah itu? Kalahkan aku dulu. Itu juga kalau kau bisa. Dan kalau kau tidak ingat, bahkan kau belum pernah sama sekali melukaiku. Merobek seujung bajuku pun belum. Kau ini sungguh aneh Arial, dan kalian, juga, Asuka, Satria, maju saja bersamaan. " Elsa keluar dari kepulan asap, di tangan kirinya masih menyala, cahaya perak yg membentuk busur panah. Kali ini ukurannya agak kecil. Mata Elsa memandang angkuh ke arah Arial, kemudian melirik 2 orang bertopeng lainnya yg dari tadi hanya menonton, tapi pakaian putih mereka sekarang agak lusuh akibat asap dan puing puing ledakan tadi.
"Majulah kalian bertiga dan coba kalahkan aku." Bentak Elsa dengan nyaring. Dan langsung saja membuat tiga orang berjubah putih itu panas hatinya.
Asuka melepas topengnya, ia adalah seorang wanita cantik bermata tajam. Kemudian disingkap jubahnya, di sabuknya terselip sebuah Pedang yg cukup panjang. Ia mengambil ancang ancang seperti seorang samurai yg hendak mencabut pedang dari sarungnya.
Seorang lagi, Satria, ia tidak mengeluarkan senjata. ia mengambil kuda kuda bertarung. Sebuah kuda kuda dari aliran beladiri pencak silat. Di pergelangan tangannya melilit gelang emas Yg cukup kokoh.
Arial pun mengambil ancang ancang untuk menyerang. Seolah sudah di komandokan, mereka bertiga menyerang bersamaan. Dengan kecepatan tinggi Asuka secepat kilat mencabut pedang dan melesat ke arah Elsa di ikuti Satria dan Arial yg mengarahkan serangnnya ke Elsa.
Di saat terakhir ketika serangan ketiga orang tersebut hampir mengenai Elsa, dari tangannya cahaya perak menyebar keseluruh penjuru ruangan yg telah setengah hancur itu. Cahaya sentak saja membuat Arial, Asuka dan Satria terpental dan menubruk tembok.
"Taukah kalian, Ini mulai membosankan." Elsa berjalan menuju ruangan belakang, sebelum ia melalui pintu meninggalkan ruangan itu Ia menoleh ke arah tiga orang penyerangnya, menatapnya dengan tajam, ketiga orang itu masih tersungkur dan compang camping mencoba untuk berdiri. Namun badan mereka bagai di injak sekumpulan gajah, sangat sulit untuk menggerakkan badan, mungkin kalau orang biasa, mereka sudah mati terkena serangan dari Elsa barusan. Tapi ketiga orang ini adalah orang orang yg kuat, mereka masih tetap sadarkan diri walau mengalami luka yg cukup parah.
"Jack? Karen? Keluarlah, sekarang sudah aman." Dengan gemetar Jack dan karen keluar dari balik pintu belakang. Mereka sedari tadi bersembunyi disana atas permintaan Elsa, awalnya Jack sangat heran dan tidak percaya saat Elsa memberi tau mereka ada orang orang yg akan datang dan berusaha membunuhnya, tentu saja Jack yg memang memiliki sifat baik tidak menerima begitu saja saat tau seorang gadis kecil akan di bunuh, dirumahnya dan dia hanya bersembunyi. Tapi saat Elsa menunjukan sedikit kemampuannya, dengan mengeluarkan bola cahaya dari tangannya, Jack langsung takjub, antara kagum dan takut, kemudian ia dan karen bersembunyi di dapur yg agak jauh kebelakan dari ruang tamu.
"Mereka, kenapa mereka bisa disini?" Ujar Sulastri, tampak kalau Sulastri mengetahui orang orang berjubah putih tersebut. "Mengapa mereka ingin membunuhmu?"
Elsa terdiam sejenak, ia memandang sepasang suami istri tersebut dengan tatapan iba. Sulastri menarik tangan Jack mundur selangkah menjauh dari Elsa, Elsa menghela nafasnya,
"Maaf, sepertinya tak ada yg perlu aku ceritakan pada kalian, dan maaf juga soal rumahmu." Elsa memasukan tangannya kedalam saku bajunya, ia mengeluarkan segenggam koin emas dan di berikannya kepada Jack,
"Ini untuk biaya perbaikan, dan soal mereka, tolong kau rawat lukanya, mereka bukan orang jahat."
Selesai berbicara, tanpa menunggu jawaban atau pertanyaan pertanyaan lain dari Jack maupun sulastri, Elsa sudah beranjak pergi meninggalkan pondok itu, berjalan di antara kabut pekat di tengah malam. Ia mengucapkan semacam mantra dalam bahasa yg aneh. Dan muncul seberkas cahaya dari tangan Elsa, kemudian perlahan cahaya itu membentuk suatu benda, cahaya itu berubah menjadi lentera yg bersinar terang di antara kabut.
Dari dalam rumah Jack cahaya yg bersinar dari lentera Elsa semakin lama semakijn menjauh, mengecil, kemudian hilang di telan kabut.
"Sepertinya aku mengenal anak itu." Ujar sulastri dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar