Kamis, 27 Oktober 2011

Chapter 2 
Angel Tale / White Flower

-------

 Keesokkan paginya aku dibangunkan oleh mama.
“Cei, bangun udah siang kamu gak kerja?” Seru mama.
“Jam berap sekarang mam?” tanyaku.
“Jam setengah sembilan.” Seru mama.
“Apa, ya Allah.. Geo mam Geo terlambat..” Sontak aku kaget.
“Udah santai, Geo udah dianterin sama papa.” Ucap mama.
“Huft, sukurlah..”
“Iya kamu kecapen yah, kalau tidur kebiasaan deh tengkurep mata bengkak tuh.” Ucap mama yang sebenarnya tau apa yang terjadi padaku.
“Ehh, iya ma..” Jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
Aku bersiap untuk melaksanakan tugasku, ya hari ini aku ke kampus bertemu mahasiswaku mengajar mereka tentang psikologi. Lucu sekali aku dosen psikologi yang cengeng dan tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Seperti biasa jika ada mama di rumahku pasti ada makanan dan bekal enak untuk aku dan Geo. Mama memang paling tau.
Aku berpamitan dan berangkat dengan bekal ditanganku.
Sesampainya aku dikampus aku masuk sekdos mengisi daftar hadir dan menuju kelas bersama teman dosen juga, hey apa kalian tau dia dosen yang tampan dan bijak menurutku, namun ketampanannya pun tak dapat membuatku mencintainya hanya sedikit kagum saja. Aku juga cukup dekat dengannya dia masih lajang lho. Dia sempat bilang dia kagum padaku namun itu tidak menjamin ia menyukaiku kan jadi aku tak memperdulikan.
Aku masuk ke kelas dan memulai pelajaran. Satu jam berlalu dan aku memutuskan untuk menyudahi pelajaran dan tidak lupa memberi mahasiswaku tugas. Setelah itu aku merapihkan semuanya dan pulang sebelumnya aku memtuskan shopping untuk membelikan sedikit hadiah kecil untuk peri kecilku.
“Ehhh.. maaf.” Kata seorang wanita yang tiba-tiba menabrakku.
“Iya, tak apa..” Ucapku.
“Wanita itupun berlalu menuju sesosok pria yang menunggunya, hey tapi tunggu aku mengenal pria itu..” Aku yang sedikit kaget bergegas pergi.
“Tuhannn, kenapa bisa bertemu dia lagi, tapi siapa wanita itu? Apa istrinya? Dasar cowok.” Ucapku sendiri dalam mobil, dengan perasaan yang tidak karuan. ‘Iya tidak banyak berubah.’

-

Sesampainya di rumah Geo sangat senang melihat boneka yang selama ini ia inginkan akhirnya bisa menjadi miliknya.
“Mama, makasih yah mama memang mama yang paling baik, cantik pokoknya Geo sayang mama.” Ucapnya lucu dengan memeberiku pelukan hangat.
“Sama-sama sayang, yaudah Geo bobo sana.. Besok udah mulai les pianao lho nanti mama deh yang nater dan temenin Geo, seklian mama tungguin juga.”
“Mama, benaran amu nungguin Geo?” Ucapnya tak percaya.
“Kamu gak kerja Cei.” Tanya mama dengan nama panggilan ciri khasnya.
“Aku minta cuti ma, satu minggu ini, mau nemenin Geo.” Ungkapku.
“Cuti itu apaan eyang?” Tanya Geo.
“Cuti itu, mama ijin gak kerja sementara sayang.” Jelas mama padanya.
“Iya sayangg, yaudah bobo sana.” Perintahku.
“Oohh, gitu toh. Geo mau bobo sama mama.” Pintanya.
“Oke peri kecil mama yang cantik ayo kita bobo.” Katanya seraya membopong tubuh mungilnya.
-
Keesokan hari yang Geo tunggu-tunggu pun tiba setelah berpamitan dengan eyang-eyangnya aku dan Geo bersiap meuju ‘Angels tale’ tempat les Geo.
“Mama, nanti Geo bakal punya teman baru lagi doang yah..” Katanya.
“Iya sayang, kamu bakal punya teman baru, kamu jaga diri yah jangan nakal sama teman kamu tapi kalau aja yang jail dan nakal sama Geo balas aja jangan nangis oke.” Ajarku pada peri kecilku untuk melindungi dirinya.
“Pastinya bosss..” Ucapnya dengan mengangkat jempolnya dan mengerling.
“Anak pintar, sini ciumnya buat mama mana.” Ia pun menciumku.
Kami sampai di Angels Tale aku mengantar Geo sampai kelasnya dan sedikit beramah tamah pada gurunya dan menitipkan anakku, dan aku mencari tempat menunggu yang nyaman sambil menikmati secangkir vanilla latte dan sedikit membuat tulisan.
Tak terasa 2 jam berlalu, aku menutup netbookku sambil menunggu Geo keluar kelasnya namun tiba-tiba ada yang menyapaku.. “Crystal..” panggilnya.
“Hey, iya...” Senyumku.
“Crys, ya Allah apa kabar lo, lagi ngapain disini nungguin siapa?” tanya sosok lelaki itu.
“Ehehee, alahamdulillah baik kak, lo sendiri apa kabar gw nungguin..” kata-kataku terpotong saat Geo keluar kelas.
“Mamaaaaa..” Teriaknya.
“Heeeehh, lo udah punya anak?” Tanyanya.
“Iya kak, lo sendiri gimana? Lah disini ngapain?” tanyaku balik.
“Alhamdulillah gw juga udah punya, gw kan disini ngajar biola Crys dan lagian ini kan yang punya Angle Tale ........ Eh sebentar deh..” Dia menatap ke arah Geo.
“Kenap kak? Oh iya Geo kenalin ini teman mama namanya Om Ryan.” Kataku, Geo bersalaman dan memberi senyum kecil.
“Kenalin aku Geovani om.” Geo memperkenalkan diri dengan ramah.
“Iya, salam kenal yah cantik..” Kak Ryan terus memandangi sosok putri kecilku. “Crys, gw mau ngobrol sama lo sebentar bisa gak lagi gak sibuk kan?” Lanjutnya.
“Iya kak, oke mau ngobrol dimana? Cafe seberang gimana disitu ada tempat maen buat anak-anak juga.” Jawabku yang sebenernya ragu karena aku tau apa yang akan kak Ryan bicarakan.
Aku duduk di tempat yang strategis memesan 2 cangkir kopi dan segelas jus apel untuk Geo, dan Geo bermain di playground cafe ini.
“Crys, jujur sama gw yah..” Ujar kak Ryan.
“Iya, memang iya kak.” Kataku dengan kesotoyanku.
“Eh, gw belum tanya kan kok udah iya, iya aja?” katanya.
“Iya tapi lo mau nanya kan anak gw anak siapa?” Kataku sedikit terguncang.
“Hmm.. Kok bisa?” Katanya.
“Bisalah kan waktu itu gw sama dia udah nikah.” Jawabku.
“Apa dia tau?” tanyanya.
“Gak tau dan gak boleh tau karena Geo milik gw.” Ucapku tegas.
“Lo gak bisa begitu Crys, dia mesti tau siapa bokapnya dan bokapnya mesti tau kalau dia punya anak.” Ujarnya menasehati ku.
“Iya tapi buat apa, yang ada nanati dia ngambil Geo dari gw lagian dia udah seneang kan sama istri barunya.” Ungakapku.
“Kata siapa dia udah punya istri dan kenapa lo waktu hamil gak bilang-bilang?” Ujarnya.
“Gak sengaja liat dia di mall sama cewek, gw juga waktu itu gak tau gw hamil pas hamil tuh memang perut gw gak ketara.” Jelasku.
“Ohhh begitu yah, tapi maslaah cewek kayaknya dia belom punya istri.” Ceritanya.
“Peduli yah, emang gw pikirin yang penting buat gw sekarang gw, hidup gw dan malaikat kecil gw, dan gw mohon jangan bilang-bilang ke Vallen awas aja lo ember gw bakal mindahin tempat les anak gw kalau gw tau lo ngasih tau dia.” Kataku.
“Iya woles kayak gak tau gw aja.” Yakinnya.
“Iya makanya karena gw tau lo gw rada gimana..” uangkapku.
“Gimana apanya?” tanyanya.
“Sudah lupakan.. hehehe.” Kataku.
“Batu dasar gak berubah-berubah.” Ucapnya.
“Enak aja berubahlah, gak liat ni gw jadi cantik.” Belaku.
“Iya tapi batunya gak ilang-ilang.” Kata kak Ryan sambil tersenyum. “Anak lo lucu yah, mukanya mirip banget sama dia cuman alisnya kayak lo.” Ungkapnya.
“Batu mah memang dari lahir.. Iya banget kak cantik kayak papanya.” Ungkapku sambil menatap makhluk indah di depanku. ‘Aku berharap dapat membahagiakannya sampai aku tak sanggup membuka mata ini lagi.’
“Mama ayo pulang ma, aku ngantuk.” Rengek putri  kecilku.
“Iya sayang, ayo.. Bsok kan kamu les lagi.” Ucapku.
“Iya ya ma, besok aku les lagi aku semangat deh ma, aku mau jadi pianis terkenal nanti bisa tampil di luar negeri.” Cita-cita serta imajinasi indahnya.
“Hehe, iya kamu pasti bisa sayang.” Semangatku.
“Pasti itu, Geo pasti bisa..” Tambah kak Ryan.
“Pasti dong om, aku pasti bisa aku kan mau ketemu papa di luar negeri.” Serunya dengan polos membuatku tanpa sadar meneteskan air mata.
“Heheh, iya. Semangat yah cantik.” Ucap kak Ryan sambil mengelus kepala putri kecilku.
“Ma ayo..” Ajaknya sambil menarik tanganku, dan tangan kiriku sergap menghapus air mata yang entah mengalir tanpa bisa dikendalikan.
“Kak, aku duluan yah, aku mohon rahasiakan semua ini, Geo ayo pamit sama om Ryan.” Ujarku.
“Om Ryan, aku pulang dulu yah samapi ketemu besok om.” Senyum kecil menghias wajah indahnya.
Kak Ryan menanggapi dengan senyum. “Hati-hati gadis manis.” Sambil melambaikan tangan.

-------
OTHER SIDE
“Lo lagi sibuk gak? Gw mau ketemu sama lo.” Ucap seorang lelaki dari seberang telepon.
“Hmm.. ada apa si? Gw lagi gak sibuk kok, lo datang aja ke rumah gw, memang ada apaan?” Tanya lelaki sedikit penasaran pada sosok yang sedang bicara dengannya.
Laki-laki itu beranjak dari duduknya. “Ok, yaudah tunggu gw di rumah lo, ada hal penting yang mesti lo tau.”
“Yaudah gw tunggu.” 

To Be Continue.. 


By : Lonely Bunny

Sabtu, 22 Oktober 2011

Pesan Singkat Untuk Putri

Kulihat senyumnya saat ia berpapasan denganku, diantara teman temanya ia melihat langsung kemataku walau hanya beberapa detik, tapi itu cukup untuk membuatku tercengan. Aku adalah orang yang sudah lama mati rasa, Aku hanyalah penyendiri yang tak pernah bisa mengatakan apa yang kurasa kepada siapapun secara langsung. Aku hanyalah seorang penyendiri yang hanya bisa memandang dari jauh, memandang kerumunan orang orang dengan kesibukannya masing masing. Aku adalah seorang yang selalu merasa cukup untuk tersenyum sendirian, aku adalah seorang pengagum rahasia.

Mata itu, mata itu telah membuat garis melengkung di bibirku, memberikanku detak detak tak biasa di jantungku, aku mengagumi  bagai mana cara  dia tersenyum, sangat indah meski bukan di tujukan untukku. Aku mengagumi bagai mana caranya memandang ceria saat teman-temannya membuat lelucon. Aku selalu mengagumi apapun yang ia lakukan, meski tak satupun yang ia lakukan itu untuku.

Aku heran, bagai mana bisa ia muncul di depanku bahkan saat aku menutup mata, bagaimana ia bisa selalu membuatku tersenyum saat melihatnya. Aku selalu heran bagaimana ia bisa memberhentikan waktu saat aku melihatnya tertawa. Tapi aku harus sadar bahwa waktu terus berjalan.

Setiap hari aku berusaha dating duluan dan duduk di koprasi yang berada di dekat gerbang sekolah agar aku bisa melihatnya melewati gerbang itu, setiap jam istirahat aku tidak langsung keluar, aku menunggu di kelasku, memandang keluar jendela untuk melihatnya lewat. Aku selalu mencari kesempatan agar bisa berpapasan dengannya.

Setahun sudah berlalu sejak pertama aku melihatnya. Sudah setahun pula berlalu sejak aku mulai menyukainya. aku mengetahui namanya, bukan karna aku bertanya langsung padanya, bahkan aku tidak berani bertanya namanya dari teman-temannya, aku seorang pengecut. Aku mengetahui namanya karna mendengar teman-temanya memanggil dia “Putri” ya namanya adalah Putri. Sedangkan namaku, ah, namaku tidaklah penting, toh tak pernah ada yang memanggil namaku selain keluargaku.  Kalian boleh memanggil ku dengan sebutan apa saja.

Aku adalah siswa kelas tiga SMK yang sebentar lagi akan lulus sekolah, ujian sudah kulalui. Itu tandanya bahwa sebentar lagi aku tidak akan bisa melihatnya lagi, akan sulit untuk dapat melihatnya tersenyum, akan sulit membuat garis lengkung itu lagi tercipta di bibirku saat melihanya. entah kekuatan apa yang membuatku tiba tiba berfikir untuk meminta nomor ponselnya. Berharap aku bisa berhubungan dengannya melalui dunia maya sebagai teman ngobol. Tapi, HEY, aku bahkan belum pernah menyapanya.

Di suatu pagi, guruku memberikan selembar kertas, kertas yang di peruntukan siswa yang akan segera menjadi alumni. Aku dan semua siswa kelas tiga lainnya harus memasukan data diri di kertas itu, dan juga ada bagian yang mengharuskan memasukan data diri adik kelas sebagai orang yang dapat dihubungi untuk mengetahui informasi dari sekolah. Terbesit di fikiranku untuk memasukan nama putri di bagian itu, ini mngkin adalah suatu kesempatan, sebuah alas an yang tepat agar aku dapat meminta nomor ponsel Putri, dengan alasan sebagai perantara aku dengan informasi di sekolah.

Aku selalu mencari kesempatan untuk bertemu dengannya, dan bilang “hei Put, boleh aku minta nomormu untuk data siswa yang dapat di hubungi alumni?” ya, bahkan sebelum mengatakannya aku sudah tau kata kata itu payah, Tapi, itulah yang ku katakana saat aku berhasil mengumpulkan keberanian dan dapat moment yang tepat. saat ia lewat di depan kelasku bersama seorang temannya. Tak pernah terbanyangkan sebelumnya, aku berhadapan dengan nya orang yang sudah setahun ini kusukai dan hanya bisa memandang dari jauh. moment paling menegangkan dalam hidupku. Bahkan lebih menegangkan daripada saat aku mendaki sebuah tebing terjal di acara pramuka dulu. Kejadiannya sangat singkat. Aku menyapanya, dan menjelaskan tentang selebaran itu. Meminta nomornya lalu pergi. Aku juga tidak pernah menyangka kalau dia ternyata mengetahui namaku. Itu adalah hal sangat membahagiakan, hal sederhana yang dapat membuatku tersenyum seharian.

Sepulangnya, saat aku beradsa di bis menuju rumah ku di tangerang, aku memberanikan diri untuk mengiriminya pesan singkat. Dengan gugup aku menuliskan “Hey:” lalu ku kirim. Dan beberapa menit kemudian ponselku berbunyi menandakan sebuah pesan telah masuk. Putri membalas. “siapa ini?” aku baru ingat, dia memang belum tau nomorku dan aku juga tak menyebutkan siapa diriku di sms pertama ku itu. Lalu kubalas dengan cepat “saya **** ”, aku adalah tipe orang yang cepat dalam membalas SMS. Dan dia adalah tipe orang yang membalas sms dengan cepat tapi sangat singkat. “oh, kak ****, kenapa kak?” dan mulai saat itu setiap hari kita berkirim SMS, membicarakan hal hal yang sebenarnya tidaklah penting atau pun serius, aku selalu berusaha membuat lelucon lelucon di setiap pesan singkat yang sebenarnya sangat panjang, walaupun aku tau banyak leluconku yang garing. ia selalu membalas pesan singkat itu dengan sangat singkat. Aku tak pernah mempermasalahkan SMSnya yang sangat singkat itu, karena walau singkat ia terus membalas, di pagi, siang dan malam

Kita sering berkirim SMS, tapi saat berpapasan kita hanya saling memberikan senyum, tak pernah sekalipun dudk berdua untuk sekedar berbincang. Itu terus terjadi bahkan sampai aku lulus dan meninggal kan sekolah. Tapi, walaupun sudah lulus kita terus berhubungan lewat pesan-pesan singkat setiap harinya. Pagi, siang dan malam.

Satu hal yang aku ketahui tentang Putri, ia adalah orang yang memiliki kebiasaan untuk tidur sangat larut malam atau bahasa kerennya “insomnia”.
Walaupun aku bukan tipe orang yang bisa tetap bermata segar saat malam tapi aku selalu berusaha untuk menemaninya SMSan sampai ia tertidur.

          Aku juga mengetahui kalo Putri memiliki seorang pacar, aku tidak mengenal pacarnya dan aku juga tak pernah berusaha mencari tau, aku menyukai putri dan hanya itu, tak ada sedikitpun terbesit di fikiran ku ini unuk berpacaran dengannya, aku selalu merasa cukup denan terus berkirim SMS dengannya setiap hari, menyukai putri juga membuatku seperti mati rasa kepada wanita lain.

          Sebenarnya aku ini bukanlah orang yang jelek, yah,menurut pendapat ku sendiri sih begitu, beberapa wanita bahkan pernah memintaku untuk menjadi pacarnya. Bukan hal sulit untukku untuk sekedar mencari teman jalan, menonton ke bioskop, atau hal hal lain, tapi aku selalu menolak wanita wanita yang datang kepadaku, bukan karena mereka jelek atau mereka orang yang tidak menyenangkan, malah bisa dibilang mereka itu cantik dan sangat asyik. Aku menolak mereka karena aku tidak mencitai mereka. Ya, aku adalah tipe orang yang tidak mau menjalin suatu hubungan tanpa perasaan. Semua perasaanku telah tersita seluruhnya untuk Putri.

Putri, putri dan putri, nama itulah yang selau muncul di hari-hariku, selalu melihat wajahnya bahkan saat aku menutup mata, selau mendengar suaranya bahkan dalam kebisingan. Sering kali aku sering salah menyebut nama saat membalas pesan dari wanita lain, aku menyebut namanya, putri. Sebuah mantra ajaib yang melilitku. Melilitku dalam hari hari yang hanya di penuhi oleh nama itu. “putri” kata yang selalu ku sebutan di hatiku.

Setahun berlalu sejak kelulusanku di sekolah tampat aku dan dia bertemu. Itu berarti dua tahun sudah aku menyukainya dan tidak pernah menyebutkan nama lain di hatiku selain dia. Dalam suatu keadaan aku berfikir, “apa aku harus terus begini, menyebut namanya yang bahkan tidak hadir secara nyata di hadapanku, selalu memikirkannya yang belum tentu memikirkanku, apa kah selamanya aku harus begini?” dan saat itu aku melihat seorang wanita, ia  lebih dewasa dariku, dan terlihat sekali kalau ia menyukaiku. Muncul di fikiranku, mungkin aku bisa mengganti nama putri di hati ini dengan memasukan nama lain, dan wanita itu sebut saja bernama Vina. Aku mendapatkan kesempatan untuk pergi keluar bersamanya, ia memintaku mengantar ke pernikahan temannya, aku menyetujuinya. Dan kami pun pergi berdua ke acara tersebut. Tapi walaupun saat aku berjalan bersama wanita lain, nama putri terus melayang layang di otakku. Bahkan aku selalu membalas SMSnya saat aku berjalan dengan wanita lain.

Selesai dari acara pernikahan teman nya. Aku mengajak vina untuk berjalan-jalan sebentar, malam itu udara agak dingin, aku memberikan jaket yangku pakai kepada vina. Walaupun aku tidak menyukainya aku adalah orang yang paling tidak bisa melihat wanita merasa tidak nyaman. Kami berhenti di sebuah taman. Dan duduk membicarakan hal hal yang sangat sensitif. terlihat kalau si vina ini menyukaiku, dan malam itu aku mengatakan hal yang sebenarnya sangat melawan prinsip ku sendiri yang sudah lama kutanamkan di pikiran dan hatiku. Aku memintanya untuk menjadi pacarku, kata-kata yang sebenarnya sangatlah tidak romantis. Sebuah kata yang keluar begitu saja dari mulut tanpa hati. Di sela pembicaran yang sensitive itu aku menyelipkan sebuah pertanyaan tidak serius. 

“Kalo gitu kita pacaran aja” kataku,

vina terdiam sejenak dan kemudian berkata “pacaran?” .

“iya, kamu mau gak jadi pacar aku?” ulangku, lalu vina memberikan anggukan tanda setuju. Dan sejak saat itu kami berdua menjalin hubungan yang di sebut pacaran. Tidak terfikirkan olehku, aku akan berpacaran dengan wanita seperti dia, umurnya 4 tahun lebih tua dariku, jelas ia lebih dewasa, tapi wajahnya tidak ia memiliki wajah yang cukup cantik kurasa.

Saat bersama vina aku berharap bisa melupakan nama Purti yang selalu ada di hatiku, berharap ia bisa menumbuhkan sebuah perasaan yang dapat menutupi perasanku terhadap putri walau tidak menghapusnya. Tapi itu ternyata tidak semudah yang di bayangkan. Nama Putri tetap saja muncul banyangannya, senyumnya yang indah. Selalu muncul di kepalaku.

Rumah vina sangatlah dekat dengan tempatku bekerja di Jakarta. Otomatis setiap hari bisa bertemu, setiap malam aku kerumahnya, mendengarkan ceritanya, keluhannya, dan kata kata cintanya terhadap ku. Ia sangat menyayangiku.

Tapi aku tidak. Walaupun begitu aku selalu berusaha menjaga perasaannya, tapi satu hal yang tidak bisa kutahan dan mungkin membuatnya jengkel adalah. Membalas sms dari putri.

Aku selalu membalas SMS putri dengan cepat, bahkan saat aku jalan dengan vina, kurasa vina mengetahuinya, dan aku juga tak pernah menutupinya, dari awal kita pacaran aku sudah bilang ke dia, putri adalah temanku saat SMK, yang aku tidak bilang adalah aku menyukainya dari dulu sampai sekarang.

dua bulan sejak kami mulai pacaran, nama putri tidak pernah menghilang, aku tidak pernah tahan jka harus tidak membalas SMS dari Putri. dan lama kelamaan Vina berubah menjadi wanita yang egois, aku selalu menuruti keinginannya, apapun yang ia minta kecuali dua hal, yang pertama adalah saat ia memintaku untuk menikahinya, dan yang kedua adalah untuk tidak membalas SMS dari Putri.

Vina memintaku menikahinya, ia sangat takut kehilanganku, bagi ku sebenarnya wajar ia ingin menikah, umurnya sudah 23 hampir 24 tahun, dan itu usia yag wajar untuk seorang wanita untuk menikah. Tapi aku hanyalah bocah berusia 19 tahun yang belum siap secara mental dan financial. Dan juga yang terpenting. Aku belum bisa mencintainya.

Tidak membalas SMS dari putri sehari saja bisa membuatku gila. SMSnya bagai narkoba bagiku, terus menagih. Tak pernah sedetikpun aku bisa berhenti menyukainya, karna ia adalah orang yang selalu kufikirkan mulai bangun tidur hingga ku tertidur lagi. Dialah orang yang selalu kubayangkan ada disampingku. Dialah segalanya bagiku.

 Tiga bulan berlalu sejak hubunganku denan vina dimulai, dan dalam tiga bulan aku sudah tau sifat aslinya yang egois, ingin menang sendiri dan matre. Aku rasa ini semua cukup dan akupun memutuskan  hubungan dengan vina dam memulai hari hari sendiriku lagi hanya di temani oleh pesan pesan singkat dari Putri.

Aku mencintainya, ya aku memang mencintainya, ini lebih dari sekedar suka, entah mengapa aku juga heran, megapa aku bisa mencintai wanita yang hanya muncul di inbox handphone dan jejaring social facebook ku saja. Aku heran bagai mana ia bisa membatku tersenyum seharian saat ia membuat lelucon mengenai diriku, khawatir saat ia bilang sedang ada problem, sedih saat mengtahui ternyata ia sudah tidak memiliki sosok ayah. Aku heran mengapa ia bisa membuatku seperti ini.

Dalam hati aku berusaha mengumpulkan keberanianku untuk mengajaknya bertemu, untuk sekedar makan atau nonton,  tapi ia selalu menolak dengan berbagai alasan, alasan yang kadang tidak terlalu masuk akal, saat itu ia sudah putus dengan pacarnya yang dulu dan Aku karang berani untuk mulai mengatakan perasaanku dengan nada-nada yang sedkit tidak serius meski sebenarnya muncul dari lubuk hati yang paling dalam, menyatakan rasa suka ku, dan puncaknya aku mengakui kalau aku orang yang menyukainya semenjak di sekolah dulu, cinta pada pandangan pertama. Menyatakan secara serius.

Tapi reaksinya tidak pernah serius, ia tidak pernah menanggapi itu dengan serius, ia membalas smsku yang panjang lebar hanya dengan kata kata tidak serius, dan itu membuatku jengkel. tapi tetap saja tidak menghilangkan rasa cintaku. Tidak menghilangkan rasa tergila gilanya diriku terhadapnya.

Aku mulai mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya walau aku sadar itu mustahil, tapi setidaknya aku mulai untuk tidak mengiriminya SMS duluan, tapi aku tetap tidak bisa menahan kalau tiba tiba ia mengirimi ku pesan duluan.

beberapa bulan berlalu sejak aku menyatakan perasaanku terhadapnya, aku sudah beberapa kali mencoba mengajaknya ketemu. Tapi ia tetap menolak dengan berbagai alasan. Ia menolakku. Ia selalu menolakku. aku heran apa yang ia pikirkan, ia mengetahui bagai mana aku menyukainya, dan dia secara tidak langsung sudah menolakku, aku sering bertanya bagai mana perasaanya terhadapku dan ia selalu menjawab tidak tau.

Disuatu malam, saat membuka jejaring social facebook ku , aku mencoba melihat profilnya untuk sekedar mengirimkan wall, tapi malam itu adalah malam yang membuatku seperti mendapatkan pukulan mematikan dari atlet silat, terdapat sebuah kiriman di wall facebooknya. Status berpacaran dengan *****, udara searasa lenyap di sekitarku, aku tidak bisa bernafas, semuanya berputar, mataku terasa perih, tapi sebuah senyum tergaris di bibirku, sebuah senyuman yan muncul begitu saja, sebuah senyuman yang tidak seharusnya ada disaat ini. Dan saat itu pula tanpa membuang waktu aku mengiriminya pesan singkat yang berisikan kekecewaanku terhadapnya, aku agak sedikit berbelit belit dengan kata kataku, aku langsung memutuskan hubungan pertemanan dengannya di facebook da memblokirnya, aku juga meng unfollow twitternya, aku menghapus nomor ponsel nya, aku gila, aku kalap, dan aku hancur, aku kecawa kepadanya bukan Karena ia berpacaran dengan orang lain, bukan karna ia tidak menyukaiku, terlebih aku kecewa karena aku harus mengetahui kenyataan itu sendiri, kenapa ia tidak pernah bilang kalau ia sedang dekat dengan seseorang. Kenapa dia tidak pernah bilang ada pria yang memintanya menjadipacarnya, kenapa ia tidak bilang padaku kemarin, kenapa ia tidak bilang sore itu saat kita berkirim pesan singkat.

Aku selalu sadar bahwa cintaku ini hanyalah bertepuk sebelah tangan, apa yang selalu kupikirkan, hehe.. berharap dia suka padaku yang hanya ia kenal lewat pesan singkat, kurasa dia tak sebodoh aku .dan sekarang aku sedang mencoba melupakannya , secepatnya,

Ini adalah untuk pertama kalinya aku merasakan sebuah tekanan didadaku, mengoosongkan udara di paru paruku, ini untuk pertama kalinya aku sakit hati.

Dan kurasa aku harus mengakhiri ini semua, aku harus berhenti memikrkannya. Aku harus berhenti berkirim pesan dengannya. Sebuah kisah manis yang terjadi di hidupku,

Setiap manusia memiliki kisahnya masing masing, setiap kisah memiliki akhir, entah bahagia atau tidak. Mungkin untuk kisahku yang ini bukan lah kisah yang bahagia, tapi aku kenudian berfikir ini belum berakhir, aku harus terus melanjutkan kisahku sampai aku mendaatkan akhir yang bahagia untuk diriku.

Putri, wanita yang selalu ada di pikiran dan hatiku. Putri, wanita yang aku cintai entah mengapa. Walaupun aku merasa sangat kecewa dan marah, tapi itu tidak pernah cukup untuk memuat diriku membencinya, itu tak pernah cukup untuk menghilangkan rasa cintaku, aku tak pernah menyesal telah mengenalnya, aku tidak pernah menyesal telah menyukainya, aku tidak pernah menyesal telah mencintainya. Ya, aku tak pernah menyesalinya,. Sedikitpun tidak. Karena buatku mencintainya adalah hal terbaik yang pernah kulakukan.


is this the end...
           From Jack to Ezy 

Jumat, 21 Oktober 2011

Angel's Tale

Chapter 1

Angels Tale ( White Flower )

                   Pagi yang putih.. sejuk.. serta lembut ..

          Sejenak seperti ada yang mengoyakan  selimut  yang menemani tidurku seperti ada menarik perlahan, yang membuat tubuh ini pun terbangun.. menatap sosok indah dihadapanku, ya dia adalah bidadari kecilku yang selama lima tahun ini mengisi kehidupanku yang sepi ini Geovani Angel M itu nama peri kecilku.

                         “Morning mommy..” Sapanya di pagi ini dengan kecupan lembut dibibirku.
                   “Morning my angel..” Senyumku dan mendekapnya dengan lembut.
              “Mam, hari ini mama anterin aku ke sekolah kan?” Tanyanya.
        “Iya, hari ini mama anterin Geo, tapi mama gak bisa nungguin Geo sayang, mama harus kerja soalnya.” Ujarku dengen lembut kepada peri kecilku.
             “Horeeee, akhirnya mama anterin Geo, kemarin-kemarin yang anterin Geo bibi terus, Geo juga mau mama Geo kayak mamanya teman-teman yang bisa anterin anaknya ke sekolah.” Ucapnya panjang lebar dengan ekspresi wajah yang sangat lugu.

           Aku terdiam dengan sedikit senyum masam ‘Mamanya temanmu kan tidak seperti mama Ge, single parent.’ Ucapku dalam hati. “Iya sayang maaf ya, yaudah sekarang kamu siap-siap.” Perintahku.
Akupun beranjak dari tempat tidurku, memandikan peri kecilku, menggantikan bajunya serta mendandaninya “Cantik.. anak mama cantik sekali.” Ucapku sambil mengecup keningnya.
           “Iya, Geo gitulohh mam..” Bangganya.

            Aku bergegas merapihkan diri bersiap mengantar peri kecilku dan berdandan rapi karena aku harus menjalani rutinitasku. Honda jazz putih sudah siap berangkat mengantar kami. Disepanjang perjalanan menuju sekolahnya Geo bernyanyi dengan riangnya membuat aku bsangga akan makhluk mungil yang cantik ini. Namun tiba-tiba dia terdiam dan mengajukan satu pertanyaan yang selalu aku tidak ingin mendengarnya.

            “Mama...” Suaranya kecil dan sedikit merunduk.
     “Iya sayang, ada apa? Apa Geo punya masalah di sekolah cerita dong sama mama sayang? Apa teman Geo ada yang suka ganggu Geo?” tanyaku sedikit cemas melihatnya.
“Gak ada kok ma, semuanya baik-baik sama Geo, Cuma..” Kata-katanya terhenti.
         “Cuma apa sayang?” Aku pun memberhentikan mobil yang sedang aku kendarai lalu membalikan badan kearahnya dan menyentuh pundak kecilnya.
         “Mama.. Papa Geo dimana?” Pertanyaan singkat yang meledakkanku seketika.
          “Oohh, Geo kangen papa yah?” Seruku dengan senyum menipu.
          “Iya, Geo kangen papa, Geo pengen ketemu papa, pengen dianterin sekolah sama papa juga ma Geo gak pernah ngeliat papa Geo, memang papa kemana si ma?” Permohonan yang langsung terucap dari mulut manis peri kecilku.
         “Hmm, gitu ya.. Papa Geo tuh mukanya kayak Geo, matanya indah, bibirnya juga kayak Geo Cuma alisnya lebih tebal, papa Geo tampan.” Senyumku sambil sedikit mendeskripsikan sosok ayah anakku.
“Oohh, berarti papa benaran ganteng ya ma, kan Geonya cantik kalau papa ganteng berarti.” Opininya sedikit bingung dan membanyangkan.
“Iya sayang.” Aku melanjutkan mengendarai mobilku.
   “Terus selama ini papa kemana ma? Papa gak kangen sama aku apa?” Pertanyaannya yang semakin membuatku gila, bagaimana aku menjelaskan semua itu. “Papa Geo kerja diluar negeri jadi papa Gak bisa pulang, waktu dulu si papa sering tengok Geo tapi Geo masih bayi jadi lupa.” Bohongku pada peri kecilku. ‘Maafkan mama.’
      “Oohhh, terus kok gak ada poto Geo sama papa?” Pertanyaaannya semakin menjadi.
        “Hmm, itu yah.. Nanti aja ya sayang nanyanya udah waktunya kamu masuk kelas sekrang.” Ucapku seraya turun dari mobil dan menggendongnya.
          “Iya udah deh ma, dadah mama..” Ia pun berlari kecil menuju kelas.

          Aku memasuki mobilku dan beranjak pergi dari sebuah taman kanak-kanak itu, aku merasa lega. Namun disepanjang perjalanan pikiranku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan dari peri mungilku itu. Jika ia bertanya tentang ayahnya apa yang harus aku lakukan dan jawaban serta kebohongan apa lagi yang harus aku ucapkan padanya. Tak seharusnya dia mendapatkan sebuah kebohongan dia tak punya salah apa-apa, tapi Vallen  juga aku bohongi karena yang ia tau dia tidak mempunyai anak. Tuhan bantu aku.

-

          Hari ini seperti biasanya aku bekerja keras mencari berita-berita baru yah beginilah pekerjaan seorang yang berkutat di dunia jurnalistik, selain sebagai jurnalis aku pun disibukkan dengan pekerjaanku yang lain yaitu menjadi dosen disebuah universitas di Jakarta. Memang melelahkan, tapi semua ini aku lakukan untuk peri kecilku rasa letihku juga hilang jika aku pulang melihat senyum manisnya.

          Jam makan siang sudah tiba, seorang teman dekatku mengajakku makan siang bersamanya seperti biasa, namun aku tak bisa karena aku mempunyai janji makan siang bersama sahabat SMA-ku Erika. Aku bergegas menuju cafe tempat kita biasanya makan dan berkumpul sejak SMA. Tak beberapa lama aku tiba di cafe itu. “Crystal...” Suara Erika memanggilku dengan lambaian tangan.
       “Udah lama lo disini?” Tanyaku.
    “Gak juga kok, baru aja sampai kira-kira lima menitan.” Ujarnya. “Yaudah buruan duduk.”
“Iya, ibu Erika.. hahaha..” Candaku. Kami pun memesan makanan. Sambil menunggu makanan yang kami pesan sampai seperti bisanya kami mengobrol tentang kegiatan sehari-hari dan kehidupan serta bertukar pikiran.
Erika bercerita banyak tentang pekerjaannya, anak-anaknya keluarga dan suaminya.
         “Tal, lo gak mau cari ayah buat Geo apa?” Tanyanya singkat padat dan sangat jelas.
        “Ayah? Buat apa? Gw udah tua.” Kataku sedikit bodoh.
       “Yeee, jangan gitulah lo gak tua banget kok lagian Geo juga butuh sosok ayah kali Tal.” Timpalnya.
       “Geo punya ayah kok, kalau masalah gw mau nikah lagi apa gak, itu mah pilihan gw.” Ucapku tegas.
        “Iya, Geo punya ayah. Tapi ayahnya aja gak tau kalau dia punya anak.” Kata-kata Erika semakin menjadi.
          “Yaudah yuk, kita makan noh makannya udah datang.” Ujarku mengalihkan pembicaraan.
Kami mulai memakan makanan yang kami pesan, “bisa aja lo ngalihin pembicaraan, kalau Vallen tau dia punya anak gimana yah?”
Sontak aku sedikit tersedak mendengar semua itu.  “Uhuk..”
           “Yaelah, sampai segitunya lo Tal, makanya jangan mikir yang aman-aman aja, dunia ini tak selebar daun kelor Tal.” Orang ini benar-benar, mengapa banyak sekali yang mengingatkan pada pangeran masa laluku itu.. ‘Tuhannnn.. pertanda apa ini?’
           “Yaudah gak usah bahas maksud kita ketemu kan buat seneng-seneng makan siang bareng jangan bikin mood gw rusak deh Ka.” Eluhku.
            “Iya, maaf Cuma mengingatkan kok. Oh iya, katanya anak lo mau ikut kursus musik?” Tanya Erika.
              “Ehm, itu. Iya Ka, anak gw kayaknya punya bakat musik dia minta sendiri mau ikut les piano yang bagus dimana yah?” Ucapku.
            “Yaudah, yang di daerah selatan aja kalau enggak privat aja lo tinggal beli pianonya.” Erika beropini.
               “Gw juga maunya gitu, tapi kasian anak gw kalau dirumah mulu juga dia mesti beradaptasi punya banyak teman, dia kan dirumah sendirian aja paling maen sama si bibi atau gak sepupunya aja.”
             “Benar juga yah, lo kan wanita karir yang sibuk cari rupiah untuk menghidupi diri sendiri dan malaikat  tercinta lo Geo.” Ucap Erika dengan gaya sedikit meledek.
             “Hahahaha.. siyalan lo dasar ibu-ibu gaul.” Ejekku.
             “Hahaha, itu harus.. umur bole tua tapi gak ketinggalan jaman juga kali.” Tawanya.
             “Iya betul itu, gak sangka yah umur kita memang tambah tua udah kepala tiga aja. Hahahaha.” Kataku.
            “Iya, padahal kan gw waktu kenal lo masih cupu yah, tomboy-tomboy gimana gitu.” Ledeknya lagi.
           “Kurang ajar kau, dasar cewek matre. Hahahah..” Ejekku lagi.
           “Yeee, harus itu... daripada hidup susah nantinya, liat kan sekrang gw gimana..” Ucanya dengan percaya diri tinggi. “Oh iya, abis ini lo mau kemana? Balik ke kantor apa mau ke kampus bu dosen?” tanyanya.
             “Ehmm, gak dua-duanya Ka, gw mau cari tempat les buat anak gw, terus jemput dia, lagi manja-manjanya dia.. Kasian juga yah anak gw, gw tinggal-tinggal mulu.” Ucapku sedikit sedih.
            “Oohh, gitu yaudah mau gw temenin gak, mumpung gw juga lagi gak sibuk anak-anak gw lagi dirumah neneknya, iya lo harus ngasih dia perhatian jangan sampai nantinya dia malah jadi anak yang gak tau aturan dan gede nya malah berontak.” Ujar Erika sedikit menasehatiku.
            “Serius, wahhhh.. teman gw yang satu ini memang baik, senang banget gw kalau lo mau nemenin makasih Ka, pokoknya gw cinta banget dah sama elo.. Iya pastinya gw gak mau anak gw kayak gitu.” Ucapku sedikit lebay dengan canda dan menanggapi nasehatnya.

           Setelah kami selasai makan, seperti yang telah direncanakan tadi. Aku dan Erika akan mencari tempat  les piano untuk putri kecilku. Setelah kami lama berjalan dan mencari info tempat yang bagus untuk les musik kami pun memasuki sekolah musik yang bagus bernama ‘Angels Tale’ saat aku memasuki dan melihat namanya mengingatkanku pada seseorang sosok ‘Vallen’ ah tapi sudahlah yang menyukai lagu itu kan bukan hanya dia didunia ini, tanpa ragu aku dan Erika memasuki tempat itu. Bertanya-tanya  tentang semuanya dan mencocokan jadwal les serta mengisi formulir, mengurus pembayaran dan akupun fix dengan semuanya. Dan anakku sudah bisa belajar di tempat itu mulai sabtu besok.
           Aku dan Erika setelah menyelesaikan semuanya memutuskan untuk pulang tapi sebelumnya kami akan menjemput Geo.
           Tak berapa lama, kami sampai dan Geo pun sedang menunggu aku menjemputnya sambil bermain bersama gurunya.
         “Geo, mama sudah jemput tuh.” Kata bu guru.
       “Iya, asikkk.. bu guru aku pulang dulu ya.” Geo bersalaman pada gurunya. Dia menghampiriku dan memelukku. “Mama, Geo kangen mama deh.” Serunya.
           “Sama sayang, mama juga kangen sama Geo, ayo kita pulang.” Ajakku, tak lupa aku berterima kasih pada bu guru yang menjaga Geo seharian ini.
             “Tal, sini gw yang bawa mobil lo, lo duduk aja sambil pangku Geo.” Erika menawarkan.
               “Iya, thanks Ka, tapi nanti mau gimana? Lo mau gw anterin ke rumah lo apa nanti supir lo mau jemput?” Tanyaku.
                 “Itu mah woles, gw udah minta suami gw jemput gw di rumah lo nanti sepulang kerja.” Katanya.
             “Yaudah sip dah.” Kataku.

           Disepanjang jalan pulang Geo terus bercerita tentang kegitan di sekolahnya dan dia juga menunjukkan gambar yang dibuatnya tadi di sekolah. Sedikit sedih aku melihatnya, ia menggambar sesosok ibu, dan ayah serta anak. Katanya itu gambar Mama, Geo dan Papa. Aku ingin menangis mendengar dan melihatnya, namun aku berusaha menahnnya. Sampai Erika memecah ke-mellow-an-ku.
         “Geooo..” Panggilnya pada putriku.
     “Iya tante..” Ucap Erika.
    “Geo, katanya mau les piano yah..” Katanya.
       “Iya tante aku suka maen piano sama denger suaranya jadi aku mau jadi orang yang hebat maen pianonya.” Cerita Geo.
        “Ohh gitu, iya pasti Geo bisa harus bisa yah, lagian tadi tante sama mama udah daftarin Geo ditempat les piano lho.” Kabar baik dari Erika aku hanya senyum saat Geo menatapku.
               “Heeee, apa iya ma?” Tanyanya padaku.
              “Tentu dong sayang..” jawabku, ia lagsung memelukku erat dan senang, Erika yang melihat hanya tersenyum.
                “Mama makasih.. muach..muachhh..” Ia membajiriku dengan ciuman lembut.
          “Sama-sama sayangggg..” Ucapku sambil memberinya ciuman lembut.
Tak lama kami sampai didepan rumahku, dan ternyata ada sebuah kejutan mama dan papa datang mengunjungi kami. Saat aku memencet bell yang membukakan pintu adalah mama.
       "Mama..” Aku langsung mencium dan memeluk seorang wonderwoman dihadapanku.
            “Eyaaangggggg..” Teriak Geo, ia berlari dan memeluk mama.
          
           Aku, Erika, Geo dan mama masuk ke dalam dan disitu papa sedang menonton tv aku mencium tangan papa, Erika juga tak lupa Geo mengikuti.
Kami bercengkrama dan bercanda tawa bersama, dan setalah suami Erika datang pun ia tak lagsung pulang ia menyempatkan makan malam bersama kami, ketika semua kegitan sudah kami lakukan sekarang waktunya Geo untuk tidur sedangkan Erika pulang ke rumahnya.
            Di ruang keluarga hanya tinggal aku, mama dan papa. Seperti biasanya aku bercerita tentang kehidupanku akhir-akhir ini dan ternyata mereka membhas hal yang sama yaitu tentang ayah untuk Geo. Entah mengapa aku sangat malas membahas hal ini, itu dikarenakan aku menang sudah menutup hatiku aku hanya ingin menyerahkan hidupku untuk Geo seorang, tapi alasan lain ialah karena Vallen takkan terganti walaupun aku membencinya tapi aku tetap tidak bisa melupakannya.
           Mama selalu menyindirku, kalau aku masih menunggunya, menunggu pria yang tak pantas aku tunggu, mama dan papa selalu membandingkan ia dengan yang lain. Aku letih, lelah dengan semua ini pembahasan yang takkan ada habisnya.
Jujur saja 7 tahun lalau saat aku menikah dengannya, sebenarnya keluargaku tidak begitu setuju, melihat latar belakangnya, sifat dia intinya bibit, bebet, bobot Vallen  tidak masuk kriteria keluargaku, Vallen  hanya punya tampang saja itu menurut mereka. Tapi aku tetap saja bertahan pada hubungan kami karena satu cinta. mungkin saat pacaran aku sering disakiti namun itu, rasa sayangku yang terlalu besar membuatku buta dan tuli sehingga aku mendapat ganjarannya sekarang. Sudahlah lupakan semua itu hanya membuatku gila.
Aku meninggalkan mama dan papa di ruang keluarga. “Ma, pa.. aku duluan yah aku capek mau tidur.” Pamitku dengan memberi kecupan selamat malam pada mereka.
              ‘Maafkan aku ma, pa. Aku memang anak yang tak bisa kalian banggakan dan sangat menyusahkan sampai saat ini.’ Tangisku dalam hati sambil menatap mereka.
           Aku memang orang yang cengeng bahkan samapi usiaku setua ini aku sering menangis, menangis ketika  mengingat semuanya. Kisah cintaku, dia, perceraian dan semuanya aku muak letih dan sakit hati ini takkan pernah hilang. Entah sampai kapan Tuhan mengujiku.
Sambil menangis tak lama aku tertidur.



To Be Continue..

By : Lonely Bunny

"ILLUSION"



CHAPTER 1.  The letter (surat)

Gerombolan orang berpakaian hitam berjalan perlahan menuju sebuah pemakaman di payungi awan hitam yang kelam.seorang anak kecil berjalan di barisan depan memegang sebuah boneka beruang yang sudah terlihat lusuh.
Tepat di belakangnya seorang pria tua berambut putih memegang pundak anak kecil itu.

“kalau kau ingin menangis tidak masalah Kevin,kami semua disini bersedih untuk kepergian ayah ibumu” ujar si kakek,wajahnya pucat menatap Kevin,tetapi anak itu tidak memalingkan wajahnya sama sekali. Dia hanya menunduk dan memeluk erat boneka beruang yang dari tadi ia pegang.

Sesaat kemudian hujan turun di tengah pemakaman yang sedang berlangsung membuat sebagian pelayat lari mencari tempat berteduh dan beberapa orang lagi terlihat tetap pada tempat yang sama tanpa bergeser sedikitpun,memandang kosong kearah dua makam di depan mereka.
Langit semakin gelap,lampu di pemakaman menyala redup menerangi sudut-sudut kuburan sore itu.

“Kenapa mereka mati?” Kevin mulai bicara dengan suara yang terdengar sangat angkuh untuk anak yang baru berumur 11 tahun,kepalanya tetap tertunduk melihat makam kedua orang tuanya yang telah selesai di timbun oleh tumpukan tanah basah pemakaman.

“Kevin,semua manusia suatu saat pasti mati ,kita tidak bisa mengelak dari kematian karena itu adalah kehendak tuhan dan orang tuamu---”
Kata-kata si kakek terhenti,air mata nya mengalir tersamar oleh air hujan yang turun semakin deras. ”orang tua mu… mereka…” kakek itu memutuskan untuk tidak melanjutkan kata-katanya dan merangkul Kevin untuk mengajaknya meninggalkan pemakaman,mereka berdua bersama pelayat lainnya pergi meninggalkan pemakaman itu diiring isak tangis beberapa wanita berkerudung hitam
mereka terlihat sangat terpukul atas kepergian orang tua Kevin.

Hujan sudah mulai reda,seorang wanita muda bermata biru berjalan melintasi pemakaman yang sudah sepi itu.
wanita itu terhenti di antara dua kuburan baru dan memegang pusaranya     dengan tangan pucatnya. Tertulis  sebuah nama.“Rizal Sinaro” dan kubruran  disebelahya “Anisa Putri”
Sebuah senyuman perlahan terbentuk di wajah wanita tersebut.

”terimakasih” ujar wanita itu.senyum sudah menghilang dari wajah pucatnya.
Di tangan kiri wanita itu tergantung sebuah kalung bertatahkan batu hijau gemerlap dan terdapat Ukiran huruf “S” yang meliuk-liuk seperti ular.

Suasana pemakaman itu sangatlah sunyi,kabut mulai turun membatasi penglihatan di sana,wanita itu mulai melangkahkan kakinya perlahan dan ia pun menghilang,lenyap kedalam kabut yang sangat tebal.


7 tahun kemudian

Rumah Mewah yang menawan itu terlihat dalam kegelapan di ujung jalan,
cahaya berkilau dari jendela berpanel silang di lantai bawah. Di bagian kebun yang gelap, air mancur bergemericik. Kerikil berbunyi saat seorang anak berseragam sekolah melewati jalan penuh batu yang sepi itu.

Langkah anak itu terhenti di depan pintu kayu besar yang menuju ruang tamu, dan berhenti sejenak untuk mengatur napas, lalu ia memutar gagang pintu perunggu.

“Selamat malam tuan muda Kevin.”ujar seorang wanita berpakian perawat muncul dari balik pintu kayu yang terbuka perlahan deangan wajah tersenyum perawat itu mundur beberapa langkah mempersilahkan Kevin untuk lewat.

“Malam suster Anna,di mana kakek?” Tanya Kevin ketus.

“Tuan besar Sinaro sedang ada di kamarnya ia baru saja tidur” suster anna merogoh kantongnya  mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya kepada Kevin.

“tadi siang ada seorang wanita menitipkan saya sebuah surat untuk di berikan kepada anda tuan muda.”ujar suster Anna.

Kevin menatap suster anna dangan pandangan dingin dan ia mulai membuka amplop yang diterimanya dan mengeluarkan kertas dari amplop tersebut
Dalam sekejap wajahnya terlihat sangat kaget saat membaca tulisan yang tertulis di surat  tersebut.


Selamat ulang tahun Kevin apa kabarmu saat ini,apa kebiasaanmu untuk bangun siang sudah berubah?dan Bagai mana keadaan kakek,apakah dia masih merokok di usianya yang sudah sangat tua itu? Kevin,Kami harap kau tumbuh menjadi anak yang baik.kami disini mencintaimu.

Rizal & anisa

Air mata menetes tepat di surat dan membuat beberapa kata yang tertulis pada surat itu memudar,Kevin sangat mengenali tulisan tersebut.tulisan tangan dari sang ayah yang ia hadiri pemakamannya 7 tahun lalu.

***

Ia mengusap air matanya dengan cepat dan kembali membaca surat itu berulang-ulang kali.

“ini pasti tidak benar!” suaranya seperti tertahan. “Ini pasti kerjaan orang iseng”.Kevin meremas surat itu dan langsung berjalan masuk melewati suster Anna menuju tangga ke lantai dua.lalu setibanya ia dia atas ia masuk kesebuah kamar di pintunya tergantung papan kecil bertulikan KEVIN SINARO,

Kevin meraba-raba tembok berusaha mencari tombol untuk menghidukan lampu.ia merasa kesulitan untuk mencari tombol itu dalam keadaan gelap.tak lama kemudian ia berhasil menekan tombol itu dan keadaan menjadi terang.
Kamarnya sangat rapih untuk ukuran anak laki-laki,buku-buku tersusun di rak buku yang berada di ujung kamar,tepat di samping jendela menghadap halaman depan,

Kevin berjalan ke pojok ruangan dan melihat keluar jendela,terlihat suster anna tampak sedang mencari-cari sesuatu di halaman depan

“apa yang dia cari?” ujar Kevin bertanya-tanya  kepada dirinya sendiri” Ah,masa bodo.” Ia menutup khorden dan menjauhi jendela dengan langkah sempoyongan,sesampainya di depan ranjang ia langsung menjatuhkan tubuhnya dan menutupi wajahnya dengan bantal,selama 5 menit ia tidak bergerak dan kemudian ia memutar tubuhnya,di tangannya masih tergenggam surat yang sudah lecek karena di remas. Ia merapikan lagi kertas itu membacanya lagi,

          ”Ini tulisan ayah…bagai mana mungkin,ia sudah meninggal bertahun tahun yang lalu”.matanya tertuju pada setiap kata yang tertulis di surat itu
Pasti orang ini adalah teman ayah yang tahu betul tulisannya dan menirunya,Tapi …untuk apa orang ini melakukannya,apa tujuannya?”

***

TOK TOK TOK!!! Terdengar pintu kamar di ketuk.

“Huh,siapa sih pagi-pagi begini?” keluh Kevin. “sebentar,akan aku buka pintunya!” ia beranjak dari tempat tidurnya berjalan melewati beberapa buku yang tergeletak di lantai beberapa kali ia tidak bisa menghindar kakinya tersandung oleh dua tumpuk buku besar dengan sampul tebal

“Kukira kamar ini tidak berantakan semalam” dalam keadaan masih setengah sadar ia heran dengan keadaan kamarnya yang berubah,tapi ia tak terlalu memperdulikannya dan  membuka pintu kamar.

Seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dengan rambut hitam sepundak berdiri di depan pintu,ia mengeakan Kalung hiju dengan ukiran huruf “s” seperti ular,

“Hei Kevin Kenapa jam segini kau masih tidur? bukannya kau harus sekolah?” ujar wanita itu. Kevin hanya diam wajahnya pucat ia terlihat shyok

“ada apa Kevin?” lanjut wanita tersebut.

“I… Ibu……..?” Kevin gemetar pikirannya campur aduk senang karena bertemu ibunya kembali tapi juga takut.ia sedang melihat ibunya yang sudah 7 tahun meninggal lalu muncul tiba tiba di hadapannya

“Iya Kenapa? Cepat mandi sana!” Anisa mulai menaikan nadanya,

“ini tidak mungkin,ini pasti mimpi” kevin kehilangan keseimbangannya dan jatuh pingsan.


***


Hujan lebat turun deras di akhir desember malam itu Membuat jalan becek dan licin,sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan 70 km/jam, jalan raya di daerah puncak itu sepi,berkelok dan naik turun,penerangan yang sangat minim membuat pengendara mobil itu kesulitan untuk memestikan jalan di depannya,

“haruskah kita menpi dulu mencari penginapan zal?” wanita yang duduk di sebelah pengemudi mulai merasa gelisah. “ kurasa ini tidak aman”

“Mungkin kau benar Anisa, kita harus menamukan sebuah penginapan di daerah sini,tapi dari tadi kita tidak melihat satu rumah pun” ujar rizal.

Sudah 1 jam sejak mereka masuk ke jalan raya puncak,tapi mereka belum menemukan satu villa bahkan rumah warga sekalipun.

“Aku senang Besok kita akan bertemu anak kita kevin” kata anisa tiba-tiba memecahkan kesunyian di antara mereka berdua” besok adalah ulang tahunya yang ke sebelaskan?”

“Benar, dan kita tidak boleh melewatkannya,sudah dua bulan lebih tidak bertemu dengan kevin” jawab Rizal sambil terus memperhatikan jalan yang gelap di depannya .

“huh aku sudah tidak sabar memberikan hadiah ini kepada kevin” anisa mengambil sebuah kotak besar di bungkus rapih dengan hiasan bunga di atasnya dari kursi belakang.

“apa kau yakin ingin memberikan itu kepada kevin?” ujar rizal sesekali ia menengok kearah anisa di sampingnya dan kembali memerhatikan jalan.

“memangnya kenapa?” anisa menaruh kotak itu lagi di kursi belakang”memangnya kenapa kalau aku memberikan ini?”

“kevin itu kan anak laki-laki,apa kau benar benar ingin memberikan Boneka beruang untuk ulang tahunnya yang kesebelas? Kurasa ia membutuhkan hadiah yang lebih….”rizal mencari kata-kata tepat untuk di ucapkan” lebih keren atau apalah, paling tidak mainan untuk anak laki-laki”ucap rizal sedikit bingung dengan kata-katanya sendiri.

“tapi aku suka boneka ini,dia terlihat lucu.aku yakin Kevin juga pasti suka” anisa menyipitkan matanya,berusaha melihat sesuatu di depan agar lebih jelas ,beberapa detik kemudian mobil menabrak sesuatu.atau seseorang

“AAAKKHHH….”Rizal dan anisa berteriak mobil mereka terhenti,mereka menabrak sesuatu,atau
Seseorang.

“Kau tidak apa-apa anisa?”rizal memastikan keadaan anisa di sebelahnya,anisa tidak bergerak kepalanya terbetur dashboard mobil ”NIS-ANISA-ANISAAA!!!!”

***

Mata Kevin mulai terbuka kepalanya masih terasa pusing.ia yakin telah melihat ibunya.
“tadi itu pasti hanya mimpi” gumam Kevin saat ia hendak bangun dari tidurnya.

“Oh kau sudah bangun Kevin? “kakek masuk melewati pintu kamar Kevin yang tidak dikunci. Ia langsung menghambur masuk dan duduk di kasur,bersebelahan dengan Kevin.

”kau pasti kelelahan ya?” kakek sinaro menepuk pundak Kevin dengan tangan kurusnya.

”hmmm… iya” jawab Kevin

“kau harus mengurangi kegiatan mu di sekolah. akhir-akhir ini kau jadi sering pulang malam” ucap si kakek menasehati Kevin.

Kevin melihat keaadan sekitar,buku buku berantakan sebagai mana pertama kali ia masuk kamarnya kemarin,ia tidur masih menggunakan seragamnya,

“Ah, jadi memang benar mimpi.”ujar Kevin dalam hati,meyakinkan dirinya kalau semua itu hanya mimpi.

“hei Kevin,ini akhir pekan apa kau ada acara hari ini?”ujar Kakek Sinaro

“hmm… kurasa tidak ada kek.”jawab Kevin sambil beranjak dari tempat tidurnya.

“bagai mana kalau kita pergi ke makam orang tua mu Kevin? hari ini tepat 7 tahun kematian orang  tua mu.” Kakek sinaro menoleh kearah photo orang tua Kevin,anaknya yang ia besarkan dan sukses seperti yang ia harapkan.

Hal terburuk sebagai orang tua adalah melihat anaknya meninggal lebih dulu darinya.

*** 

to be continued