Sabtu, 22 Oktober 2011

Pesan Singkat Untuk Putri

Kulihat senyumnya saat ia berpapasan denganku, diantara teman temanya ia melihat langsung kemataku walau hanya beberapa detik, tapi itu cukup untuk membuatku tercengan. Aku adalah orang yang sudah lama mati rasa, Aku hanyalah penyendiri yang tak pernah bisa mengatakan apa yang kurasa kepada siapapun secara langsung. Aku hanyalah seorang penyendiri yang hanya bisa memandang dari jauh, memandang kerumunan orang orang dengan kesibukannya masing masing. Aku adalah seorang yang selalu merasa cukup untuk tersenyum sendirian, aku adalah seorang pengagum rahasia.

Mata itu, mata itu telah membuat garis melengkung di bibirku, memberikanku detak detak tak biasa di jantungku, aku mengagumi  bagai mana cara  dia tersenyum, sangat indah meski bukan di tujukan untukku. Aku mengagumi bagai mana caranya memandang ceria saat teman-temannya membuat lelucon. Aku selalu mengagumi apapun yang ia lakukan, meski tak satupun yang ia lakukan itu untuku.

Aku heran, bagai mana bisa ia muncul di depanku bahkan saat aku menutup mata, bagaimana ia bisa selalu membuatku tersenyum saat melihatnya. Aku selalu heran bagaimana ia bisa memberhentikan waktu saat aku melihatnya tertawa. Tapi aku harus sadar bahwa waktu terus berjalan.

Setiap hari aku berusaha dating duluan dan duduk di koprasi yang berada di dekat gerbang sekolah agar aku bisa melihatnya melewati gerbang itu, setiap jam istirahat aku tidak langsung keluar, aku menunggu di kelasku, memandang keluar jendela untuk melihatnya lewat. Aku selalu mencari kesempatan agar bisa berpapasan dengannya.

Setahun sudah berlalu sejak pertama aku melihatnya. Sudah setahun pula berlalu sejak aku mulai menyukainya. aku mengetahui namanya, bukan karna aku bertanya langsung padanya, bahkan aku tidak berani bertanya namanya dari teman-temannya, aku seorang pengecut. Aku mengetahui namanya karna mendengar teman-temanya memanggil dia “Putri” ya namanya adalah Putri. Sedangkan namaku, ah, namaku tidaklah penting, toh tak pernah ada yang memanggil namaku selain keluargaku.  Kalian boleh memanggil ku dengan sebutan apa saja.

Aku adalah siswa kelas tiga SMK yang sebentar lagi akan lulus sekolah, ujian sudah kulalui. Itu tandanya bahwa sebentar lagi aku tidak akan bisa melihatnya lagi, akan sulit untuk dapat melihatnya tersenyum, akan sulit membuat garis lengkung itu lagi tercipta di bibirku saat melihanya. entah kekuatan apa yang membuatku tiba tiba berfikir untuk meminta nomor ponselnya. Berharap aku bisa berhubungan dengannya melalui dunia maya sebagai teman ngobol. Tapi, HEY, aku bahkan belum pernah menyapanya.

Di suatu pagi, guruku memberikan selembar kertas, kertas yang di peruntukan siswa yang akan segera menjadi alumni. Aku dan semua siswa kelas tiga lainnya harus memasukan data diri di kertas itu, dan juga ada bagian yang mengharuskan memasukan data diri adik kelas sebagai orang yang dapat dihubungi untuk mengetahui informasi dari sekolah. Terbesit di fikiranku untuk memasukan nama putri di bagian itu, ini mngkin adalah suatu kesempatan, sebuah alas an yang tepat agar aku dapat meminta nomor ponsel Putri, dengan alasan sebagai perantara aku dengan informasi di sekolah.

Aku selalu mencari kesempatan untuk bertemu dengannya, dan bilang “hei Put, boleh aku minta nomormu untuk data siswa yang dapat di hubungi alumni?” ya, bahkan sebelum mengatakannya aku sudah tau kata kata itu payah, Tapi, itulah yang ku katakana saat aku berhasil mengumpulkan keberanian dan dapat moment yang tepat. saat ia lewat di depan kelasku bersama seorang temannya. Tak pernah terbanyangkan sebelumnya, aku berhadapan dengan nya orang yang sudah setahun ini kusukai dan hanya bisa memandang dari jauh. moment paling menegangkan dalam hidupku. Bahkan lebih menegangkan daripada saat aku mendaki sebuah tebing terjal di acara pramuka dulu. Kejadiannya sangat singkat. Aku menyapanya, dan menjelaskan tentang selebaran itu. Meminta nomornya lalu pergi. Aku juga tidak pernah menyangka kalau dia ternyata mengetahui namaku. Itu adalah hal sangat membahagiakan, hal sederhana yang dapat membuatku tersenyum seharian.

Sepulangnya, saat aku beradsa di bis menuju rumah ku di tangerang, aku memberanikan diri untuk mengiriminya pesan singkat. Dengan gugup aku menuliskan “Hey:” lalu ku kirim. Dan beberapa menit kemudian ponselku berbunyi menandakan sebuah pesan telah masuk. Putri membalas. “siapa ini?” aku baru ingat, dia memang belum tau nomorku dan aku juga tak menyebutkan siapa diriku di sms pertama ku itu. Lalu kubalas dengan cepat “saya **** ”, aku adalah tipe orang yang cepat dalam membalas SMS. Dan dia adalah tipe orang yang membalas sms dengan cepat tapi sangat singkat. “oh, kak ****, kenapa kak?” dan mulai saat itu setiap hari kita berkirim SMS, membicarakan hal hal yang sebenarnya tidaklah penting atau pun serius, aku selalu berusaha membuat lelucon lelucon di setiap pesan singkat yang sebenarnya sangat panjang, walaupun aku tau banyak leluconku yang garing. ia selalu membalas pesan singkat itu dengan sangat singkat. Aku tak pernah mempermasalahkan SMSnya yang sangat singkat itu, karena walau singkat ia terus membalas, di pagi, siang dan malam

Kita sering berkirim SMS, tapi saat berpapasan kita hanya saling memberikan senyum, tak pernah sekalipun dudk berdua untuk sekedar berbincang. Itu terus terjadi bahkan sampai aku lulus dan meninggal kan sekolah. Tapi, walaupun sudah lulus kita terus berhubungan lewat pesan-pesan singkat setiap harinya. Pagi, siang dan malam.

Satu hal yang aku ketahui tentang Putri, ia adalah orang yang memiliki kebiasaan untuk tidur sangat larut malam atau bahasa kerennya “insomnia”.
Walaupun aku bukan tipe orang yang bisa tetap bermata segar saat malam tapi aku selalu berusaha untuk menemaninya SMSan sampai ia tertidur.

          Aku juga mengetahui kalo Putri memiliki seorang pacar, aku tidak mengenal pacarnya dan aku juga tak pernah berusaha mencari tau, aku menyukai putri dan hanya itu, tak ada sedikitpun terbesit di fikiran ku ini unuk berpacaran dengannya, aku selalu merasa cukup denan terus berkirim SMS dengannya setiap hari, menyukai putri juga membuatku seperti mati rasa kepada wanita lain.

          Sebenarnya aku ini bukanlah orang yang jelek, yah,menurut pendapat ku sendiri sih begitu, beberapa wanita bahkan pernah memintaku untuk menjadi pacarnya. Bukan hal sulit untukku untuk sekedar mencari teman jalan, menonton ke bioskop, atau hal hal lain, tapi aku selalu menolak wanita wanita yang datang kepadaku, bukan karena mereka jelek atau mereka orang yang tidak menyenangkan, malah bisa dibilang mereka itu cantik dan sangat asyik. Aku menolak mereka karena aku tidak mencitai mereka. Ya, aku adalah tipe orang yang tidak mau menjalin suatu hubungan tanpa perasaan. Semua perasaanku telah tersita seluruhnya untuk Putri.

Putri, putri dan putri, nama itulah yang selau muncul di hari-hariku, selalu melihat wajahnya bahkan saat aku menutup mata, selau mendengar suaranya bahkan dalam kebisingan. Sering kali aku sering salah menyebut nama saat membalas pesan dari wanita lain, aku menyebut namanya, putri. Sebuah mantra ajaib yang melilitku. Melilitku dalam hari hari yang hanya di penuhi oleh nama itu. “putri” kata yang selalu ku sebutan di hatiku.

Setahun berlalu sejak kelulusanku di sekolah tampat aku dan dia bertemu. Itu berarti dua tahun sudah aku menyukainya dan tidak pernah menyebutkan nama lain di hatiku selain dia. Dalam suatu keadaan aku berfikir, “apa aku harus terus begini, menyebut namanya yang bahkan tidak hadir secara nyata di hadapanku, selalu memikirkannya yang belum tentu memikirkanku, apa kah selamanya aku harus begini?” dan saat itu aku melihat seorang wanita, ia  lebih dewasa dariku, dan terlihat sekali kalau ia menyukaiku. Muncul di fikiranku, mungkin aku bisa mengganti nama putri di hati ini dengan memasukan nama lain, dan wanita itu sebut saja bernama Vina. Aku mendapatkan kesempatan untuk pergi keluar bersamanya, ia memintaku mengantar ke pernikahan temannya, aku menyetujuinya. Dan kami pun pergi berdua ke acara tersebut. Tapi walaupun saat aku berjalan bersama wanita lain, nama putri terus melayang layang di otakku. Bahkan aku selalu membalas SMSnya saat aku berjalan dengan wanita lain.

Selesai dari acara pernikahan teman nya. Aku mengajak vina untuk berjalan-jalan sebentar, malam itu udara agak dingin, aku memberikan jaket yangku pakai kepada vina. Walaupun aku tidak menyukainya aku adalah orang yang paling tidak bisa melihat wanita merasa tidak nyaman. Kami berhenti di sebuah taman. Dan duduk membicarakan hal hal yang sangat sensitif. terlihat kalau si vina ini menyukaiku, dan malam itu aku mengatakan hal yang sebenarnya sangat melawan prinsip ku sendiri yang sudah lama kutanamkan di pikiran dan hatiku. Aku memintanya untuk menjadi pacarku, kata-kata yang sebenarnya sangatlah tidak romantis. Sebuah kata yang keluar begitu saja dari mulut tanpa hati. Di sela pembicaran yang sensitive itu aku menyelipkan sebuah pertanyaan tidak serius. 

“Kalo gitu kita pacaran aja” kataku,

vina terdiam sejenak dan kemudian berkata “pacaran?” .

“iya, kamu mau gak jadi pacar aku?” ulangku, lalu vina memberikan anggukan tanda setuju. Dan sejak saat itu kami berdua menjalin hubungan yang di sebut pacaran. Tidak terfikirkan olehku, aku akan berpacaran dengan wanita seperti dia, umurnya 4 tahun lebih tua dariku, jelas ia lebih dewasa, tapi wajahnya tidak ia memiliki wajah yang cukup cantik kurasa.

Saat bersama vina aku berharap bisa melupakan nama Purti yang selalu ada di hatiku, berharap ia bisa menumbuhkan sebuah perasaan yang dapat menutupi perasanku terhadap putri walau tidak menghapusnya. Tapi itu ternyata tidak semudah yang di bayangkan. Nama Putri tetap saja muncul banyangannya, senyumnya yang indah. Selalu muncul di kepalaku.

Rumah vina sangatlah dekat dengan tempatku bekerja di Jakarta. Otomatis setiap hari bisa bertemu, setiap malam aku kerumahnya, mendengarkan ceritanya, keluhannya, dan kata kata cintanya terhadap ku. Ia sangat menyayangiku.

Tapi aku tidak. Walaupun begitu aku selalu berusaha menjaga perasaannya, tapi satu hal yang tidak bisa kutahan dan mungkin membuatnya jengkel adalah. Membalas sms dari putri.

Aku selalu membalas SMS putri dengan cepat, bahkan saat aku jalan dengan vina, kurasa vina mengetahuinya, dan aku juga tak pernah menutupinya, dari awal kita pacaran aku sudah bilang ke dia, putri adalah temanku saat SMK, yang aku tidak bilang adalah aku menyukainya dari dulu sampai sekarang.

dua bulan sejak kami mulai pacaran, nama putri tidak pernah menghilang, aku tidak pernah tahan jka harus tidak membalas SMS dari Putri. dan lama kelamaan Vina berubah menjadi wanita yang egois, aku selalu menuruti keinginannya, apapun yang ia minta kecuali dua hal, yang pertama adalah saat ia memintaku untuk menikahinya, dan yang kedua adalah untuk tidak membalas SMS dari Putri.

Vina memintaku menikahinya, ia sangat takut kehilanganku, bagi ku sebenarnya wajar ia ingin menikah, umurnya sudah 23 hampir 24 tahun, dan itu usia yag wajar untuk seorang wanita untuk menikah. Tapi aku hanyalah bocah berusia 19 tahun yang belum siap secara mental dan financial. Dan juga yang terpenting. Aku belum bisa mencintainya.

Tidak membalas SMS dari putri sehari saja bisa membuatku gila. SMSnya bagai narkoba bagiku, terus menagih. Tak pernah sedetikpun aku bisa berhenti menyukainya, karna ia adalah orang yang selalu kufikirkan mulai bangun tidur hingga ku tertidur lagi. Dialah orang yang selalu kubayangkan ada disampingku. Dialah segalanya bagiku.

 Tiga bulan berlalu sejak hubunganku denan vina dimulai, dan dalam tiga bulan aku sudah tau sifat aslinya yang egois, ingin menang sendiri dan matre. Aku rasa ini semua cukup dan akupun memutuskan  hubungan dengan vina dam memulai hari hari sendiriku lagi hanya di temani oleh pesan pesan singkat dari Putri.

Aku mencintainya, ya aku memang mencintainya, ini lebih dari sekedar suka, entah mengapa aku juga heran, megapa aku bisa mencintai wanita yang hanya muncul di inbox handphone dan jejaring social facebook ku saja. Aku heran bagai mana ia bisa membatku tersenyum seharian saat ia membuat lelucon mengenai diriku, khawatir saat ia bilang sedang ada problem, sedih saat mengtahui ternyata ia sudah tidak memiliki sosok ayah. Aku heran mengapa ia bisa membuatku seperti ini.

Dalam hati aku berusaha mengumpulkan keberanianku untuk mengajaknya bertemu, untuk sekedar makan atau nonton,  tapi ia selalu menolak dengan berbagai alasan, alasan yang kadang tidak terlalu masuk akal, saat itu ia sudah putus dengan pacarnya yang dulu dan Aku karang berani untuk mulai mengatakan perasaanku dengan nada-nada yang sedkit tidak serius meski sebenarnya muncul dari lubuk hati yang paling dalam, menyatakan rasa suka ku, dan puncaknya aku mengakui kalau aku orang yang menyukainya semenjak di sekolah dulu, cinta pada pandangan pertama. Menyatakan secara serius.

Tapi reaksinya tidak pernah serius, ia tidak pernah menanggapi itu dengan serius, ia membalas smsku yang panjang lebar hanya dengan kata kata tidak serius, dan itu membuatku jengkel. tapi tetap saja tidak menghilangkan rasa cintaku. Tidak menghilangkan rasa tergila gilanya diriku terhadapnya.

Aku mulai mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya walau aku sadar itu mustahil, tapi setidaknya aku mulai untuk tidak mengiriminya SMS duluan, tapi aku tetap tidak bisa menahan kalau tiba tiba ia mengirimi ku pesan duluan.

beberapa bulan berlalu sejak aku menyatakan perasaanku terhadapnya, aku sudah beberapa kali mencoba mengajaknya ketemu. Tapi ia tetap menolak dengan berbagai alasan. Ia menolakku. Ia selalu menolakku. aku heran apa yang ia pikirkan, ia mengetahui bagai mana aku menyukainya, dan dia secara tidak langsung sudah menolakku, aku sering bertanya bagai mana perasaanya terhadapku dan ia selalu menjawab tidak tau.

Disuatu malam, saat membuka jejaring social facebook ku , aku mencoba melihat profilnya untuk sekedar mengirimkan wall, tapi malam itu adalah malam yang membuatku seperti mendapatkan pukulan mematikan dari atlet silat, terdapat sebuah kiriman di wall facebooknya. Status berpacaran dengan *****, udara searasa lenyap di sekitarku, aku tidak bisa bernafas, semuanya berputar, mataku terasa perih, tapi sebuah senyum tergaris di bibirku, sebuah senyuman yan muncul begitu saja, sebuah senyuman yang tidak seharusnya ada disaat ini. Dan saat itu pula tanpa membuang waktu aku mengiriminya pesan singkat yang berisikan kekecewaanku terhadapnya, aku agak sedikit berbelit belit dengan kata kataku, aku langsung memutuskan hubungan pertemanan dengannya di facebook da memblokirnya, aku juga meng unfollow twitternya, aku menghapus nomor ponsel nya, aku gila, aku kalap, dan aku hancur, aku kecawa kepadanya bukan Karena ia berpacaran dengan orang lain, bukan karna ia tidak menyukaiku, terlebih aku kecewa karena aku harus mengetahui kenyataan itu sendiri, kenapa ia tidak pernah bilang kalau ia sedang dekat dengan seseorang. Kenapa dia tidak pernah bilang ada pria yang memintanya menjadipacarnya, kenapa ia tidak bilang padaku kemarin, kenapa ia tidak bilang sore itu saat kita berkirim pesan singkat.

Aku selalu sadar bahwa cintaku ini hanyalah bertepuk sebelah tangan, apa yang selalu kupikirkan, hehe.. berharap dia suka padaku yang hanya ia kenal lewat pesan singkat, kurasa dia tak sebodoh aku .dan sekarang aku sedang mencoba melupakannya , secepatnya,

Ini adalah untuk pertama kalinya aku merasakan sebuah tekanan didadaku, mengoosongkan udara di paru paruku, ini untuk pertama kalinya aku sakit hati.

Dan kurasa aku harus mengakhiri ini semua, aku harus berhenti memikrkannya. Aku harus berhenti berkirim pesan dengannya. Sebuah kisah manis yang terjadi di hidupku,

Setiap manusia memiliki kisahnya masing masing, setiap kisah memiliki akhir, entah bahagia atau tidak. Mungkin untuk kisahku yang ini bukan lah kisah yang bahagia, tapi aku kenudian berfikir ini belum berakhir, aku harus terus melanjutkan kisahku sampai aku mendaatkan akhir yang bahagia untuk diriku.

Putri, wanita yang selalu ada di pikiran dan hatiku. Putri, wanita yang aku cintai entah mengapa. Walaupun aku merasa sangat kecewa dan marah, tapi itu tidak pernah cukup untuk memuat diriku membencinya, itu tak pernah cukup untuk menghilangkan rasa cintaku, aku tak pernah menyesal telah mengenalnya, aku tidak pernah menyesal telah menyukainya, aku tidak pernah menyesal telah mencintainya. Ya, aku tak pernah menyesalinya,. Sedikitpun tidak. Karena buatku mencintainya adalah hal terbaik yang pernah kulakukan.


is this the end...
           From Jack to Ezy 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar