Jumat, 21 Oktober 2011

Angel's Tale

Chapter 1

Angels Tale ( White Flower )

                   Pagi yang putih.. sejuk.. serta lembut ..

          Sejenak seperti ada yang mengoyakan  selimut  yang menemani tidurku seperti ada menarik perlahan, yang membuat tubuh ini pun terbangun.. menatap sosok indah dihadapanku, ya dia adalah bidadari kecilku yang selama lima tahun ini mengisi kehidupanku yang sepi ini Geovani Angel M itu nama peri kecilku.

                         “Morning mommy..” Sapanya di pagi ini dengan kecupan lembut dibibirku.
                   “Morning my angel..” Senyumku dan mendekapnya dengan lembut.
              “Mam, hari ini mama anterin aku ke sekolah kan?” Tanyanya.
        “Iya, hari ini mama anterin Geo, tapi mama gak bisa nungguin Geo sayang, mama harus kerja soalnya.” Ujarku dengen lembut kepada peri kecilku.
             “Horeeee, akhirnya mama anterin Geo, kemarin-kemarin yang anterin Geo bibi terus, Geo juga mau mama Geo kayak mamanya teman-teman yang bisa anterin anaknya ke sekolah.” Ucapnya panjang lebar dengan ekspresi wajah yang sangat lugu.

           Aku terdiam dengan sedikit senyum masam ‘Mamanya temanmu kan tidak seperti mama Ge, single parent.’ Ucapku dalam hati. “Iya sayang maaf ya, yaudah sekarang kamu siap-siap.” Perintahku.
Akupun beranjak dari tempat tidurku, memandikan peri kecilku, menggantikan bajunya serta mendandaninya “Cantik.. anak mama cantik sekali.” Ucapku sambil mengecup keningnya.
           “Iya, Geo gitulohh mam..” Bangganya.

            Aku bergegas merapihkan diri bersiap mengantar peri kecilku dan berdandan rapi karena aku harus menjalani rutinitasku. Honda jazz putih sudah siap berangkat mengantar kami. Disepanjang perjalanan menuju sekolahnya Geo bernyanyi dengan riangnya membuat aku bsangga akan makhluk mungil yang cantik ini. Namun tiba-tiba dia terdiam dan mengajukan satu pertanyaan yang selalu aku tidak ingin mendengarnya.

            “Mama...” Suaranya kecil dan sedikit merunduk.
     “Iya sayang, ada apa? Apa Geo punya masalah di sekolah cerita dong sama mama sayang? Apa teman Geo ada yang suka ganggu Geo?” tanyaku sedikit cemas melihatnya.
“Gak ada kok ma, semuanya baik-baik sama Geo, Cuma..” Kata-katanya terhenti.
         “Cuma apa sayang?” Aku pun memberhentikan mobil yang sedang aku kendarai lalu membalikan badan kearahnya dan menyentuh pundak kecilnya.
         “Mama.. Papa Geo dimana?” Pertanyaan singkat yang meledakkanku seketika.
          “Oohh, Geo kangen papa yah?” Seruku dengan senyum menipu.
          “Iya, Geo kangen papa, Geo pengen ketemu papa, pengen dianterin sekolah sama papa juga ma Geo gak pernah ngeliat papa Geo, memang papa kemana si ma?” Permohonan yang langsung terucap dari mulut manis peri kecilku.
         “Hmm, gitu ya.. Papa Geo tuh mukanya kayak Geo, matanya indah, bibirnya juga kayak Geo Cuma alisnya lebih tebal, papa Geo tampan.” Senyumku sambil sedikit mendeskripsikan sosok ayah anakku.
“Oohh, berarti papa benaran ganteng ya ma, kan Geonya cantik kalau papa ganteng berarti.” Opininya sedikit bingung dan membanyangkan.
“Iya sayang.” Aku melanjutkan mengendarai mobilku.
   “Terus selama ini papa kemana ma? Papa gak kangen sama aku apa?” Pertanyaannya yang semakin membuatku gila, bagaimana aku menjelaskan semua itu. “Papa Geo kerja diluar negeri jadi papa Gak bisa pulang, waktu dulu si papa sering tengok Geo tapi Geo masih bayi jadi lupa.” Bohongku pada peri kecilku. ‘Maafkan mama.’
      “Oohhh, terus kok gak ada poto Geo sama papa?” Pertanyaaannya semakin menjadi.
        “Hmm, itu yah.. Nanti aja ya sayang nanyanya udah waktunya kamu masuk kelas sekrang.” Ucapku seraya turun dari mobil dan menggendongnya.
          “Iya udah deh ma, dadah mama..” Ia pun berlari kecil menuju kelas.

          Aku memasuki mobilku dan beranjak pergi dari sebuah taman kanak-kanak itu, aku merasa lega. Namun disepanjang perjalanan pikiranku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan dari peri mungilku itu. Jika ia bertanya tentang ayahnya apa yang harus aku lakukan dan jawaban serta kebohongan apa lagi yang harus aku ucapkan padanya. Tak seharusnya dia mendapatkan sebuah kebohongan dia tak punya salah apa-apa, tapi Vallen  juga aku bohongi karena yang ia tau dia tidak mempunyai anak. Tuhan bantu aku.

-

          Hari ini seperti biasanya aku bekerja keras mencari berita-berita baru yah beginilah pekerjaan seorang yang berkutat di dunia jurnalistik, selain sebagai jurnalis aku pun disibukkan dengan pekerjaanku yang lain yaitu menjadi dosen disebuah universitas di Jakarta. Memang melelahkan, tapi semua ini aku lakukan untuk peri kecilku rasa letihku juga hilang jika aku pulang melihat senyum manisnya.

          Jam makan siang sudah tiba, seorang teman dekatku mengajakku makan siang bersamanya seperti biasa, namun aku tak bisa karena aku mempunyai janji makan siang bersama sahabat SMA-ku Erika. Aku bergegas menuju cafe tempat kita biasanya makan dan berkumpul sejak SMA. Tak beberapa lama aku tiba di cafe itu. “Crystal...” Suara Erika memanggilku dengan lambaian tangan.
       “Udah lama lo disini?” Tanyaku.
    “Gak juga kok, baru aja sampai kira-kira lima menitan.” Ujarnya. “Yaudah buruan duduk.”
“Iya, ibu Erika.. hahaha..” Candaku. Kami pun memesan makanan. Sambil menunggu makanan yang kami pesan sampai seperti bisanya kami mengobrol tentang kegiatan sehari-hari dan kehidupan serta bertukar pikiran.
Erika bercerita banyak tentang pekerjaannya, anak-anaknya keluarga dan suaminya.
         “Tal, lo gak mau cari ayah buat Geo apa?” Tanyanya singkat padat dan sangat jelas.
        “Ayah? Buat apa? Gw udah tua.” Kataku sedikit bodoh.
       “Yeee, jangan gitulah lo gak tua banget kok lagian Geo juga butuh sosok ayah kali Tal.” Timpalnya.
       “Geo punya ayah kok, kalau masalah gw mau nikah lagi apa gak, itu mah pilihan gw.” Ucapku tegas.
        “Iya, Geo punya ayah. Tapi ayahnya aja gak tau kalau dia punya anak.” Kata-kata Erika semakin menjadi.
          “Yaudah yuk, kita makan noh makannya udah datang.” Ujarku mengalihkan pembicaraan.
Kami mulai memakan makanan yang kami pesan, “bisa aja lo ngalihin pembicaraan, kalau Vallen tau dia punya anak gimana yah?”
Sontak aku sedikit tersedak mendengar semua itu.  “Uhuk..”
           “Yaelah, sampai segitunya lo Tal, makanya jangan mikir yang aman-aman aja, dunia ini tak selebar daun kelor Tal.” Orang ini benar-benar, mengapa banyak sekali yang mengingatkan pada pangeran masa laluku itu.. ‘Tuhannnn.. pertanda apa ini?’
           “Yaudah gak usah bahas maksud kita ketemu kan buat seneng-seneng makan siang bareng jangan bikin mood gw rusak deh Ka.” Eluhku.
            “Iya, maaf Cuma mengingatkan kok. Oh iya, katanya anak lo mau ikut kursus musik?” Tanya Erika.
              “Ehm, itu. Iya Ka, anak gw kayaknya punya bakat musik dia minta sendiri mau ikut les piano yang bagus dimana yah?” Ucapku.
            “Yaudah, yang di daerah selatan aja kalau enggak privat aja lo tinggal beli pianonya.” Erika beropini.
               “Gw juga maunya gitu, tapi kasian anak gw kalau dirumah mulu juga dia mesti beradaptasi punya banyak teman, dia kan dirumah sendirian aja paling maen sama si bibi atau gak sepupunya aja.”
             “Benar juga yah, lo kan wanita karir yang sibuk cari rupiah untuk menghidupi diri sendiri dan malaikat  tercinta lo Geo.” Ucap Erika dengan gaya sedikit meledek.
             “Hahahaha.. siyalan lo dasar ibu-ibu gaul.” Ejekku.
             “Hahaha, itu harus.. umur bole tua tapi gak ketinggalan jaman juga kali.” Tawanya.
             “Iya betul itu, gak sangka yah umur kita memang tambah tua udah kepala tiga aja. Hahahaha.” Kataku.
            “Iya, padahal kan gw waktu kenal lo masih cupu yah, tomboy-tomboy gimana gitu.” Ledeknya lagi.
           “Kurang ajar kau, dasar cewek matre. Hahahah..” Ejekku lagi.
           “Yeee, harus itu... daripada hidup susah nantinya, liat kan sekrang gw gimana..” Ucanya dengan percaya diri tinggi. “Oh iya, abis ini lo mau kemana? Balik ke kantor apa mau ke kampus bu dosen?” tanyanya.
             “Ehmm, gak dua-duanya Ka, gw mau cari tempat les buat anak gw, terus jemput dia, lagi manja-manjanya dia.. Kasian juga yah anak gw, gw tinggal-tinggal mulu.” Ucapku sedikit sedih.
            “Oohh, gitu yaudah mau gw temenin gak, mumpung gw juga lagi gak sibuk anak-anak gw lagi dirumah neneknya, iya lo harus ngasih dia perhatian jangan sampai nantinya dia malah jadi anak yang gak tau aturan dan gede nya malah berontak.” Ujar Erika sedikit menasehatiku.
            “Serius, wahhhh.. teman gw yang satu ini memang baik, senang banget gw kalau lo mau nemenin makasih Ka, pokoknya gw cinta banget dah sama elo.. Iya pastinya gw gak mau anak gw kayak gitu.” Ucapku sedikit lebay dengan canda dan menanggapi nasehatnya.

           Setelah kami selasai makan, seperti yang telah direncanakan tadi. Aku dan Erika akan mencari tempat  les piano untuk putri kecilku. Setelah kami lama berjalan dan mencari info tempat yang bagus untuk les musik kami pun memasuki sekolah musik yang bagus bernama ‘Angels Tale’ saat aku memasuki dan melihat namanya mengingatkanku pada seseorang sosok ‘Vallen’ ah tapi sudahlah yang menyukai lagu itu kan bukan hanya dia didunia ini, tanpa ragu aku dan Erika memasuki tempat itu. Bertanya-tanya  tentang semuanya dan mencocokan jadwal les serta mengisi formulir, mengurus pembayaran dan akupun fix dengan semuanya. Dan anakku sudah bisa belajar di tempat itu mulai sabtu besok.
           Aku dan Erika setelah menyelesaikan semuanya memutuskan untuk pulang tapi sebelumnya kami akan menjemput Geo.
           Tak berapa lama, kami sampai dan Geo pun sedang menunggu aku menjemputnya sambil bermain bersama gurunya.
         “Geo, mama sudah jemput tuh.” Kata bu guru.
       “Iya, asikkk.. bu guru aku pulang dulu ya.” Geo bersalaman pada gurunya. Dia menghampiriku dan memelukku. “Mama, Geo kangen mama deh.” Serunya.
           “Sama sayang, mama juga kangen sama Geo, ayo kita pulang.” Ajakku, tak lupa aku berterima kasih pada bu guru yang menjaga Geo seharian ini.
             “Tal, sini gw yang bawa mobil lo, lo duduk aja sambil pangku Geo.” Erika menawarkan.
               “Iya, thanks Ka, tapi nanti mau gimana? Lo mau gw anterin ke rumah lo apa nanti supir lo mau jemput?” Tanyaku.
                 “Itu mah woles, gw udah minta suami gw jemput gw di rumah lo nanti sepulang kerja.” Katanya.
             “Yaudah sip dah.” Kataku.

           Disepanjang jalan pulang Geo terus bercerita tentang kegitan di sekolahnya dan dia juga menunjukkan gambar yang dibuatnya tadi di sekolah. Sedikit sedih aku melihatnya, ia menggambar sesosok ibu, dan ayah serta anak. Katanya itu gambar Mama, Geo dan Papa. Aku ingin menangis mendengar dan melihatnya, namun aku berusaha menahnnya. Sampai Erika memecah ke-mellow-an-ku.
         “Geooo..” Panggilnya pada putriku.
     “Iya tante..” Ucap Erika.
    “Geo, katanya mau les piano yah..” Katanya.
       “Iya tante aku suka maen piano sama denger suaranya jadi aku mau jadi orang yang hebat maen pianonya.” Cerita Geo.
        “Ohh gitu, iya pasti Geo bisa harus bisa yah, lagian tadi tante sama mama udah daftarin Geo ditempat les piano lho.” Kabar baik dari Erika aku hanya senyum saat Geo menatapku.
               “Heeee, apa iya ma?” Tanyanya padaku.
              “Tentu dong sayang..” jawabku, ia lagsung memelukku erat dan senang, Erika yang melihat hanya tersenyum.
                “Mama makasih.. muach..muachhh..” Ia membajiriku dengan ciuman lembut.
          “Sama-sama sayangggg..” Ucapku sambil memberinya ciuman lembut.
Tak lama kami sampai didepan rumahku, dan ternyata ada sebuah kejutan mama dan papa datang mengunjungi kami. Saat aku memencet bell yang membukakan pintu adalah mama.
       "Mama..” Aku langsung mencium dan memeluk seorang wonderwoman dihadapanku.
            “Eyaaangggggg..” Teriak Geo, ia berlari dan memeluk mama.
          
           Aku, Erika, Geo dan mama masuk ke dalam dan disitu papa sedang menonton tv aku mencium tangan papa, Erika juga tak lupa Geo mengikuti.
Kami bercengkrama dan bercanda tawa bersama, dan setalah suami Erika datang pun ia tak lagsung pulang ia menyempatkan makan malam bersama kami, ketika semua kegitan sudah kami lakukan sekarang waktunya Geo untuk tidur sedangkan Erika pulang ke rumahnya.
            Di ruang keluarga hanya tinggal aku, mama dan papa. Seperti biasanya aku bercerita tentang kehidupanku akhir-akhir ini dan ternyata mereka membhas hal yang sama yaitu tentang ayah untuk Geo. Entah mengapa aku sangat malas membahas hal ini, itu dikarenakan aku menang sudah menutup hatiku aku hanya ingin menyerahkan hidupku untuk Geo seorang, tapi alasan lain ialah karena Vallen takkan terganti walaupun aku membencinya tapi aku tetap tidak bisa melupakannya.
           Mama selalu menyindirku, kalau aku masih menunggunya, menunggu pria yang tak pantas aku tunggu, mama dan papa selalu membandingkan ia dengan yang lain. Aku letih, lelah dengan semua ini pembahasan yang takkan ada habisnya.
Jujur saja 7 tahun lalau saat aku menikah dengannya, sebenarnya keluargaku tidak begitu setuju, melihat latar belakangnya, sifat dia intinya bibit, bebet, bobot Vallen  tidak masuk kriteria keluargaku, Vallen  hanya punya tampang saja itu menurut mereka. Tapi aku tetap saja bertahan pada hubungan kami karena satu cinta. mungkin saat pacaran aku sering disakiti namun itu, rasa sayangku yang terlalu besar membuatku buta dan tuli sehingga aku mendapat ganjarannya sekarang. Sudahlah lupakan semua itu hanya membuatku gila.
Aku meninggalkan mama dan papa di ruang keluarga. “Ma, pa.. aku duluan yah aku capek mau tidur.” Pamitku dengan memberi kecupan selamat malam pada mereka.
              ‘Maafkan aku ma, pa. Aku memang anak yang tak bisa kalian banggakan dan sangat menyusahkan sampai saat ini.’ Tangisku dalam hati sambil menatap mereka.
           Aku memang orang yang cengeng bahkan samapi usiaku setua ini aku sering menangis, menangis ketika  mengingat semuanya. Kisah cintaku, dia, perceraian dan semuanya aku muak letih dan sakit hati ini takkan pernah hilang. Entah sampai kapan Tuhan mengujiku.
Sambil menangis tak lama aku tertidur.



To Be Continue..

By : Lonely Bunny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar