Kamis, 20 Oktober 2011

Mapple's

Mapple

Meet u, after along time
-
Rukia side
“Srekkk-srekkk.”
“Rukia, apa kau yakin akan pulang besok?” Tanya seorang wanita paruh baya.
“Iya, aku aku yakin nek.” Jawab gadis manis itu dengan senyum simpulnya.
“Apa kau tidak mau lebih lama disini bersama nenek..” Bujuk wanita tua itu sambil membantu Rukia merapihkan pakaiannya.
Rukia tampak mondar-mandir membenahi keperluan yang harus iya masukkan dalam kopernya. “Aku kan sudah lumayan lama nek, sudah dua minggu aku meninggalkan Karakura.” Jawabnya dengan senyum serta pelukan hangat untuk neneknya yang tampak masih merindukannya.
“Iya Aku tahu, kau sudah rindu pada ibu, ayah serta adikmu bukan?” Ujar nenek Rukia  seraya mempererat pelukannya.
Rukia merasa tidak enak pada neneknya yang kelihatan sedih karena kepulangannya. “Nenek, jangan sedih ya, kumohon.. aku ibu dan Ururu akan kembali liburan nanti.” Ujarnya meyakinkan neneknya.
“Baiklah sayang aku tidak sedih, hanya saja disini nenek merasa sepi jika tidak ada kamu.” Ucap nenek sambil menyentuh pipi tembem milik cucunya.
“Hehe, iya aku tahu. Tapi, disini masih ada paman Urahara dan keluarnya yang menemani nenek jadi nenek tidak boleh kesepian okay...” Serunya diiringi senyum ikhlasnya.
“Iya cucuku sayang, sekarang sudah larut sebaiknya kau tidur agar tidak kesiangan besok.” Ujar nenek sambil mengantar Rukia ke kamar.
“Nenek..” Panggil Ruki.
“Iya, apa masih ada yang kau butuhkan nak Ruki?” Tanya nenek.
“Hmm.. tidaka ada nek, hanya saja aku ingin nenek menemani tidurku malam ini.” Ungakapnya tersipu malu.
Nenek pun tersenyum sambil berjalan ke arahku. “Dengan senang hati Ruki-chan.” Sambut nenek, kemudian mereka pun beristirahat.

-
Keesokkan hari – Stasiun Kyoto
“Rukiaaaa, hati-hati yaaaa...” Teriak seorang lelaki.
“Iya paman, terima kasih ya sudah mengantarku, jaga nenek baik-baik ya..” Serunya sambil melambaikan tangan.
“Nenek, jaga diri baik-baik yah, aku akan selalu merindukan nenek.” Ucapnya sambil mencium dan memeluk neneknya.
“Iya kau juga, hati-hati jangan ceroboh.” Ucap nenek perlahan turun dari kereta yang sudah mau berjalan.
Suara lonceng stasiun terdengar dan saatnya kereta yang ditumpangi Rukia berangkat.

-
Other side
“Kriinggggggggggggggg..”
“Siang, kediaman Kuchiki disini.” Ucap Hisana.
“Iya, Halo.. dapatkah aku berbicara dengan Rukia Kuchiki?” Tanya seseorang itu.
“Rukia sedang berada di luar kota, maaf dengan siapa aku berbicara??” Tanya Hisana.
“Kapan ia kembali ke Karakura?? Ohh iya. Apa ini tante Hisana??” Tanya balik orang tersebut.
“Hari ini. Iya, betul itu saya.” Jawab Hisana dengan sopan.
“Oohh begitu. Tante, ini aku Ichigo, Kurosaki Ichigo.” Jawabnya dengan jelas.
“Ichigo, apa kabar?” Tanya Hisana dengan keibuan.
“Aku, baik tante, bagaimana kedaan Rukia, tante dan semuanya?” Tanya Ichigo kembali.
“Kami semua baik. Hmm, sedang berada  dimana kau sekarang Ichigo?” Tanya Hisana.
“Aku sedang di jalan menuju Karakura, mungkin 30 menit lagi aku sampai di stasiun Karakura.” Jawabnya jelas.
“Ohhh, begitu.. Rukia mungkin 1 jam lagi sampai di Karakura.” Jelas Hisana.
“Kalau begitu, aku akan menunggunya di stasiun.” Seru Ichigo.
“Baiklah, nanti tante dan Ururu menyusul.” Terangnya.
“Ok, aku tunggu. Sampai jumpa tan..” Seru Ichigo sambil mematikan telponnya.
-
Stasiun – Karakura
Ichigo pun keluar dari Kereta yang membawanya dari Osaka. Ia duduk dimana nantinya kereta yang membawa Rukia berhenti.
Dari kejauhan ada suara yang memanggil namanya. “Ichigo..”,”Kak Ichi..” seru suara dari kedua orang itu.
“Hei, tante,  Ururu ..” Ucap Ichigo dengan membentuk siluet indah diwajahnya.
Ia pun bersalaman dengan Hisana serta memberi pelukan kecil pada Ururu.
“Kak Ichigo..” Seru Ururu lirih.
“Hn..”
“Kemana saja si??” Serunya.
“Aku tidak kemana-mana kok, hanya berpindah rumah saja.” Jawabnya.
“Iya, aku tau tapi mendadak sekali..” Eluh Ururu.
“Hahaha, maaf yah...” Ucap Ichigo sambil mengusap kepala Ururu.
“Ya, sudah ngobrolnya dilanjutkan nanti, itu kereta dari Kyoto sudah sampai.” Ucap Hisana dengan menunjuk ke arah kereta itu.
Beberapa saat kemudian kereta itupun berhenti, seorang gadis bertubuh mungil itu keluar dari kereta itu. Ia melambaikan tangannya pada ibu dan adiknya, tanpa ia sadara seseorang mengahampirinya dan menutup matanya dari belakang.
“Hei, siapa kau??” Ucap gadis itu dengan kaget.
“Coba tebak??” Seru Ichigo menggodanya.
“Hmm2.. ‘siapa dia.’ Pikir Rukia dalam hati. ‘Telapak tangan yang lebar, tubuh besar dan tinggi... apa itu dia?’ tanyanya dalam hati. ‘Heyyyy,s iapa orang ini..’ kesalnya.
“Dasar cebol bodoh, orang keren seperti aku kau lupakan.” Seru Ichigo, dengan posisi yang masih sama seperti tadi.
‘Apa?’ Kaget Rukia dalam hati. “Ichigo..” Sebutnya lirih.
“Iya, cebol ini aku..” Perlahan Ichigo melepaskan tangannya dari mata Rukia.
“Ichi-berry.. Bodohhh.. kemana saja kau??” Ucapnya sambil membalikkan tubuh kecilnya dan memeluk sahabatnya itu.
“Aku? Aku tidak kemana-mana.” Serunya dengan tawa dan membalas pelukan sahabatnya.
“Bodoh..” Rukia menjitak kepala Ichigo.
“Itaaaiiiiiiiiiiiii, cebolll..” Eluhnya seraya memegang kepalanya yang sakit.
“Kau bilang tidak kemana-mana?” Kesal Rukia. “Orange bodoh, kau pergi tanpa memberi tahu aku dan meninggalkan aku selama 3 tahun Ichi-berry.” Tambanya.
“Iya aku tahu.. maafkan aku, aku kan sudah janji tidak akan seperti itu lagi.” Ichigo tersenyum.
Rukia membalas senyuman itu dengan anggukan kecil. “Aku yakin kau orang yang bisa mempertanggungjawabkan perkataanmu.”
“Kau tahu aku kan.” Ucap sambil Ichigo mengusap rambut violet Rukia. “rambutmu panjang sekarang.”
“Heheh, tentu..” Tawa Ruki.
“Menurutmu bagaimana?” Tanya Rukia.
“Kau jelek dengan rambut pendekmu.” Ucap Ichigo jelas.
“Hahaha, apa iya.. sama saja.” Sahutnya.
Ichigo hanya membalas dengan anggukan kecil.
Hisana dan Ururu hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.
“Ichigo, Rukia. Sepertinya kalian tidak langsung pulang ke rumah, jadi mama dan Ururu akan pulang duluan dan mama akan membawakan barang-barangmu Rukia, mama tahu pasti kalian mau menghabiskan waktu bersama, benar begitu.” Jelas Hiasana panjang lebar. Ichigo dan Rukia hanya tersenyum. Rukia pun memberikan ciuman kecil untuk ibunya tercinta.
Hisana dan Ururu pun pulang, sedangkan Ichigo dan Rukia memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama untuk melepaskan rindu mereka setelah lama tidak bertemu.
“Ichigo.. kita mau kemana? Apa tempat itu?” Tanya Rukia.
“Kau pasti tahu tempat yang aku maksud.” Senyum Ichigo.
“Hmm, tempat itu yah..” Ujarnya.
“Pasti..” Mereka pun berjalan ke suatu tempat yang menurut mereka tempat spesial untuk mereka berdua untuk menghabiskan waktu bersama.

-
Mapple
“Spent my time with u”

Mereka berjalan di Musim gugur yang indah, Ichigo menarik tangan Rukia untuk mempercepat jalan mereka.
“Bodoh, buru-buru sekali.” Elu Rukia yang sedari tadi ditarik-tarik tangannya oleh Ichigo.
Ichigo hanya menengok dan tertawa. “Hahah, maaf.. Aku terlalu bersemangat.” Senyum Ichigo.
Rukia menatap tempat sekitarnya dengan mata violetnya yang indah, meneropong kesegala penjuru dari keindahan tempat itu. “Ichi..Go..” Suaranya yang terperangah.
Ichigo mendekat dan memegang pundak sahabatnya. “Iya, tempat ini.”
“Ternyata.. kau tidak melupakan tempat ini.” Rukia masih tidak percaya dengan yang ia lihat.
“Heii, cebol bodoh.. Aku tidak sepikun itu..” Ucapnya dengan nada bercanda.
“Hahah.. tempat ini..” Rukia tersenyum sambil mengingat masa lalunya.

-FLASBACK-
“Aduhhh, susah sekali..” Kata seorang gadis kecil yang coba menggambil layang-layangnya d’atas pohon. “Baiklah aku akan memanjat..” Serunya dengan bersemangat.
Gadis itupun memanjat pohon yang cukup tinggi itu. “Aaahh, masih belom sampai.. tinggi sekali.” Ucapnya dalam hati. “Yes, aku mendapatkannya.” Gadis itupun tersenyum dengan senangnya sampai-sampai ia lupa sedang berada dimana dirinya sekrang.
Ternyata disisi lain dr pohon itu ada seorang anak laki-laki yang sedang tidur dengan pulasnya di bawah pohon itu. Rukia yang kehilangan keseinmbangannya pun berteriak. “Heiiiiiiiiiiiiiiii, orange bodoh, menjauh dari bawahku.” Ichigo dengan cepatnya menyingkir dari bawah pohon itu dengan sedikit bingung.
“Awassssssssss..” Terikan dari gadis kecil itu. “Brukkkkkk..” Ia pun jatuh. “hei, aku tidak merasakan sakitt..”  ucapnya lirih dengan sedikit kebingungan.
“Jelas, sekarang lihat.. kau ada dimana nona..” Ucap anak laki-laki yang bertubuh tinggi itu.
Rukia menatap keadaannya. “E-eh, maaf..”
“Sekarang turun, kau berat tau..” Ujar Ichigo.
“Iya, maaf..” Rukia turun dari tubuh Ichigo yang ditindihnya dengan rona merah dipipinya.
Ichogi berjalan meninggalkan Rukia. “Aku duluan yah..” Ichigo melambaikan tangannya.
“Hei, tunggu.. Terima kasih yaaa..” Teriak Rukia, dan ia mengejar Ichigo. Rukia dan Ichigo pun berkenalan pada saat itu. Dari situ mereka mulai berteman, dan setelah lulus sekolah dasar mereka masuk disekolah SMP yang sama dari situ mereka mengenal satu sama lain lebih dekat dan akhirnya menjadi sahabat.
-FLASBACK END-

Rukia berseringai kecil mengingat kejadian empat tahun lalu. “Sangat tidak  terduga.” Ucapnya lirih.
“Ya, siapa yang akan menyangka tidur siangku akan diganggu oleh gadis yang terjatuh dari pohon karena sebuah layang-layang yang jelek.” Ichigo mengusap kelapa Rukia. “Gadis bodoh.”
“Hahaha.” Rukia tersenyum menunjukkan berisan kecil giginya. “Dasar Ichiberry weeee.” Ledeknya.
Mereka berjalan menuju pohon besar yang tua itu, Ichigo merebahkan tubuhnya d’bawah pohon itu.
“Sudah sangat lama sekali rasanya aku tidak kesini.” Ujarnya.
“Ahaha, jangankan engkau Ichigo, akupun begitu.. sejak kau pindah, aku jarang sekali ke tempat ini.” Sahut Rukia. “Aku tidak suka datang ke tempat ini sendiri.” Lanjutnya.
“Hha.. tapi hari ini kau tidak sendiri.” Ucap Ichigo.
“Tentu, aku bersama Ichiberry  si rmabu orange.” Rukia mengambil tempat merebahkan dirinya disebelah Ichigo.
“Rukia.. Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Ichigo yang membuat Rukia sedikit bingung.
“Kenapa dengan aku? Aku yang seharusnya bertanya tentang keadaan diri dan perasaanmu.” Tanggap Rukia pada pertanyaan Ichigo.
“Aku baik-baik saja kok.” Ichigo meyakinkan.
“Begitupula aku.” Rukia menunjukkan ekpresi wajah yang sangat tenang.
“Baguslah jika seperti itu, aku senang mendengarnya, aku tidak ingin kau merasa sedih atau tersakiti karena ulah ‘dia’ yang menjengkelkan itu.” Ucap Ichigo  sengit ketika mengetahui sahabatnya diselingkuhi oleh kekasihnya.
“Hei, tenang kau seperti baru mengenalku saja.” Rukia meredam emosi sahabatnya. “Aku sudah tahu sejak awal aku menjalin hubungan dengannya, aku tahu akan berkahir seperti ini.”
“Lalu untuk apa Rukia, orang itu,, Err.. membuat aku kesal saja.” Ichigo masih terlihat emosi.
“Iya, karena aku ingin meelihat ia berubah, namun kenyataannya sulit merubah orang seperti tiu.” Ucap Rukia dengan santainya.
“Apa kau yakin?” Tanya Ichigo.
“Tentu.” Ucapnya tegas dengan senyum simpulnya yang indah.
“Haha, baiklah aku percaya.. Lupaan semua itu.” Ichigo mengalihkan pembicaraan dan Rukia hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
“Hmm.. bagaimana dengan Inoue?” Ucap Rukia sedikit ragu.
“Aku sudah melupakannya, ornag yang dulu aku sayangi sekarang menjadi orang yang paling aku benci.” Ucap Ichigo dengan tatapan penuh kebencian mengingat mantan kekasihnya.
“Apa kau yakin?” Rukia sedikit meledek. “Nanti cinta lama bersemi kembali lagi.. hehheh.”
“Ya, pastinya, aku kan laki-laki yang memegang semua yang ku ucapkan, aku bukan pembual dan kau kan kenal aku, aku bukan tipe pembohong dan laki-laki pecundang.” Ucap Ichigo tegas setegas-tegasnya.
“Waaahhh, keren.. aku tau itu.. Heheh, jadi tidak meratapi?” Ucap Rukia sedikit iseng.
“Untuk apa diratapi, hanya bisa bersabar. Lihatlah ke bawah jangan ke atas, masih banyak yang lebih sulit dari kita. Kau mengerti cebol..!” Ichigo sedikit menekankan kata-katanya dan ia mendekatkan wjahnya kearah Rukia dengan sedikit menekan kepala sahabatnya.
“Hahah, siap pak.. aku mengerti, semua akan indah pada waktunya.” Balas Rukia memberi sikap hormat kepada sahabatnya dan mereka tertawa bersama kemudian merebahkan kembali tubuh mereka di bawah pohon mapple yang daunnya sedang gugur itu.
“Ichigo, lihat pohon mapple ini, indah sekali bukan.” Ucap Rukia.
“Sangat indah dan sangat rapuh.” Sahut Ichigo.
“Benar, waktu itu aku kesal sekali padamu, karena kau pindah tanpa memberi tahu aku terlebih dahulu, dan pohon ini jadi korban kemarahanku, aku memberi pohon ini sayatan-sayatan kekecewaanku.” Jelas Rukia.
“Tapi sekarang kan kau tahu apa alasanku, aku juga sudah meminta maaf padamu dan berjanji padamu tidak akan seperti itu lagi. Sulit sekali mebuatmu percaya lagi padaku, dasar anak kecil keras kepala.” Ucap Ichikgo panjang lebar.
“Hahha, iya maaf jika aku keras kepala abisnya kau menjengkelkan.” Rukia mencoba mengelak. ” iya sudahlah yang lalu biarlah berlalu lupakan semuanya dan ucapkan selamat datang untuk kehidupan baru” lanjut Rukia.
“Yoo, itu benar, selamat datang kehidupan baru dan pengalaman baru, semoga kita bisa lebih dewasa yah.” Ujar Ichigo sambil mengangkat tubuhnya lalu berdiri dan menarik tangan Rukia. “Ayo, kita pulang langit sudah menunjukkan senja.” Ucapnya.
“Iya, iya dasar bawel.” Rukia berdiri. Mereka pun berjalan berdampingan.
“Semoga persahabatan kita tidak kalah yah dengan pohon mapple yang tua ini.” Ucap Rukia dengan senyum manisnya yang tulus dan Ichigo membalas dengan anggukan kecil. Ichigo dan Rukia berjalan pulang ke rumah Rukia ditemani senjanya langit yang indah dimusim gugur.

By : Lonely Bunny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar